Di Balik Sentuhan Layar Ada Bank Nagari yang Menjaga

Ekonomi- 16-04-2026 15:15
Seorang nasabah tampak mengakses layanan digital Ollin by Bank Nagari melalui ponsel pintarnya. Sebagai bank kebanggaan masyarakat Sumatera Barat, Bank Nagari terus menghadirkan kemudahan transaksi sekaligus memastikan keamanan data nasabah tetap terjaga dengan sistem perlindungan yang andal. IST
Seorang nasabah tampak mengakses layanan digital Ollin by Bank Nagari melalui ponsel pintarnya. Sebagai bank kebanggaan masyarakat Sumatera Barat, Bank Nagari terus menghadirkan kemudahan transaksi sekaligus memastikan keamanan data nasabah tetap terjaga dengan sistem perlindungan yang andal. IST

.

Bank Nagari menyadari hal tersebut sejak awal. Mereka tidak hanya membangun sistem, tetapi juga membangun struktur yang mampu merespons ancaman secara terkoordinasi. Salah satunya melalui pembentukan Tim Tanggap Insiden Siber (TTIS) dimana awalnya dikenal sebagai Computer Security Incident Response Team (CISRT), sejalan dengan kebijakan dari Badan Siber dan Sandi Negara. Bahkan, Bank Nagari menjadi salah satu pelopor di sektor keuangan daerah dalam pembentukan tim ini. "Dulu kita pilot project. Bank daerah pertama yang membentuk CISRT yang kemudian diubah dengan nama TTIS," ujarnya.

Tim ini tidak hanya menunggu serangan terjadi. Mereka juga melakukan simulasi, menguji skenario, dan melatih respons. Seperti latihan simulasi gempa dan tsunami, tetapi dilakukan di dunia digital. "Supaya kalau benar-benar terjadi, kita tidak panik," kata Radytia.

Ancaman tidak pernah berhenti. Sistem keamanan Bank Nagari bekerja selama dua puluh empat jam sehari, tujuh hari dalam seminggu. Tidak ada jeda. Bahkan saat orang lain beristirahat. Radytia masih ingat bagaimana Idul Fitri tahun ini terasa sedikit berbeda. Ia berkumpul dengan keluarga, menikmati hidangan khas Lebaran, berbincang ringan, tertawa bersama. Namun di sisi lain, ponselnya tetap aktif. Notifikasi tidak mengenal hari libur.

Di tengah suasana hangat itu, sebuah peringatan muncul. Aktivitas mencurigakan terdeteksi. Ia tidak punya banyak pilihan selain memastikan semuanya aman. "Sistem pengamanan berjalan secara berkelanjutan untuk memastikan layanan tetap aman setiap saat," katanya.

Namun di balik kesibukan itu, ada hal lain yang sering kali menjadi perhatian utamanya. Bukan sistem. Bukan teknologi. Melainkan manusia. Banyak orang mengira serangan siber selalu menargetkan sistem yang kompleks. Padahal dalam banyak kasus, titik lemahnya justru ada pada pengguna. Phishing, social engineering, tautan palsu semuanya dirancang untuk memanfaatkan kelengahan manusia. "Selain sistem, faktor kesadaran pengguna juga menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan digital," ungkap alumni MAN 2 Bandarlampung ini.next

Komentar