.
Pengalaman Pipih bersama Bank Nagari tidak berhenti di situ. Ia mengaku, kemudahan akses layanan menjadi salah satu alasan ia bertahan sebagai nasabah. Proses administrasi yang tidak berbelit membuatnya bisa lebih fokus mengurus produksi dan pelanggan.
Dalam beberapa kesempatan, ia juga mengikuti bazar yang difasilitasi Bank Nagari. Salah satunya dilibatkan dalam kegiatan Sumarak Ramadhan yang tiap tahun diadakan di Masjid Syekh Al Minangkabawi dan turut menyaksikan peluncuran aplikasi Super Apps Ollin by Nagari, 23 Januari 2025. Dari kegiatan itu, ia tidak hanya mendapatkan tambahan penjualan, tetapi juga pelanggan baru yang kemudian menjadi langganan tetap. "Bazar itu seperti panggung kecil. Kami bisa bertemu pelanggan baru yang mungkin sebelumnya tidak tahu Magenta Coklat," kata Pipih.
Ia pun belajar menata etalase dan produk agar lebih menarik, karena bazar memberi tantangan tampil maksimal dalam waktu singkat. "Setiap bazar selalu memberi umpan balik langsung dari pengunjung. Dari sana saya tahu mana yang disukai, mana yang perlu diperbaiki," ucapnya.
Bagi usaha yang tidak mengandalkan iklan besar, ruang promosi seperti ini menjadi sangat berarti. Ia juga merasakan kedekatan yang berbeda. Komunikasi yang terjalin terasa lebih personal, tidak kaku. "Kita tidak merasa sendiri. Ada tempat bertanya, ada yang membantu mencarikan solusi," katanya.
Hari ini, Magenta Coklat bukan sekadar toko kue. Ia adalah simbol ketekunan. Tentang bagaimana ketidaktahuan bisa berubah menjadi keahlian, dan kegagalan menjadi pijakan.
Pipih tidak pernah ingin menjadi yang terbesar. Ia hanya ingin tetap ada. "Silent, tapi customer yang mencari," katanya.
Ketahanan UMKM dan Peran Bank Daerah
Bagi Direktur Utama Bank Nagari, Gusti Candra, kisah seperti Magenta Coklat adalah cermin wajah nyata ekonomi daerah. "UMKM adalah tulang punggung. Ketika mereka bertahan, ekonomi daerah ikut kuat," ujarnya.
Ia menegaskan, Bank Nagari ingin hadir bukan hanya sebagai penyedia modal, tetapi sebagai mitra yang menemani perjalanan pengusaha lokal. Fasilitas yang mereka sediakan. Mulai dari digitalisasi pembayaran, QR Code, EDC, hingga pelatihan dan bazar yang dirancang agar UMKM bisa fokus pada kualitas produk tanpa terbebani proses administratif yang rumit.
Menurutnya, keberadaan bank daerah memiliki tujuan sosial ekonomi yang lebih luas. Ketika UMKM tumbuh, dampaknya berlipat. Tenaga kerja terserap, ekonomi bergerak, dan kepercayaan terhadap produk lokal meningkat. "Itu jauh lebih besar daripada sekadar laba bank," kata alumni Universitas Andalas ininext


Komentar