SPPG Didorong Kelola Limbah Dapur secara Mandiri dan Berkelanjutan

Metro- 21-06-2026 12:43
Tenaga Ahli Bidang Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional, Dipl. Ing. Alfa Riza membuka Bimtek Pengelolaan Limbah Bahan Dapur pada SPPG, Sabtu (20/6/2026). IST
Tenaga Ahli Bidang Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional, Dipl. Ing. Alfa Riza membuka Bimtek Pengelolaan Limbah Bahan Dapur pada SPPG, Sabtu (20/6/2026). IST

Pekanbaru, Arunala.com---Provinsi Riau menjadi daerah pertama di Indonesia yang menggelar bimbingan teknis (bimtek) pengelolaan limbah bahan dapur pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Pelatihan yang diinisiasi oleh Pusat Diklat Nasional ini juga menjadi yang pertama kali diselenggarakan secara khusus bagi tenaga SPPG. Kegiatan ini sekaligus menjadi implementasi dari Peraturan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nomor 1 Tahun 2026 serta Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2025 terkait penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Tenaga Ahli Bidang Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional, Dipl. Ing. Alfa Riza, menyebut pelatihan tersebut merupakan langkah strategis yang patut menjadi contoh bagi daerah lain dalam mendukung keberlanjutan program MBG sekaligus meningkatkan efektivitas penggunaan anggaran negara.

"Pelatihan ini pertama digelar di Indonesia. Sangat penting untuk dicermati dan diikuti sehingga dapat diimplementasikan dalam dapur-dapur SPPG. Ini perlu ditiru oleh provinsi lain agar kita bisa mengoptimalisasikan dana APBN menjadi tepat guna," kata Alfa Riza kepada wartawan, Sabtu (20/6/2026).

Menurut Alfa, perhatian terhadap pengelolaan limbah sebenarnya telah menjadi bagian dari penyusunan petunjuk teknis pengelolaan makanan bergizi gratis sejak akhir 2025. "Namun dalam pelaksanaannya, masih ditemukan volume limbah yang cukup besar, terutama pada masa awal pelaksanaan program," sebutnya.

Selama April hingga Mei 2025, ungkapnya, banyak limbah makanan yang dihasilkan dari dapur SPPG. Padahal, tujuan utama program adalah memastikan makanan yang disajikan dapat dikonsumsi secara optimal oleh para penerima manfaat. Karena itu, diperlukan kreativitas dan inovasi dari pengawas gizi maupun juru masak dalam menyusun menu yang menarik, sesuai selera penerima manfaat, sehingga makanan yang disajikan tidak terbuang percuma.

"Setiap makanan yang disajikan seharusnya disantap habis oleh penerima manfaat. Untuk itu perlu kreasi dari pengawas gizi dan juru masak agar menu yang disajikan menarik sehingga tidak ada sisa makanan," ujarnyanext

Komentar