.
Alfa menegaskan pengurangan limbah tidak hanya berkaitan dengan makanan yang tidak habis dikonsumsi, tetapi juga dimulai dari proses pengolahan bahan makanan. Teknik memotong buah, mengupas bahan pangan, mengolah sayuran hingga mempersiapkan daging harus dilakukan secara tepat agar tidak menghasilkan banyak sisa bahan yang terbuang.
"Ini juga tergantung bagaimana cara memotong buah, daging ayam, mengupas buah dan memotong sayur. Dibutuhkan keterampilan khusus dari tenaga yang kompeten sehingga tidak ada bagian bahan makanan yang terbuang sia-sia," katanya.
Menurutnya, jika pengelolaan limbah diterapkan secara konsisten di seluruh SPPG, manfaat yang diperoleh tidak hanya dari sisi efisiensi anggaran, tetapi juga berdampak langsung terhadap kualitas lingkungan. "Lingkungan akan menjadi lebih sehat, asri dan bersih. Masyarakat tidak terganggu oleh bau menyengat, dan pada akhirnya juga tidak membebani tempat pembuangan akhir," tambahnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Pelayanan Pangan dan Gizi Wilayah Riau, Kepulauan Riau dan Sumatera Barat, Dr. Syartiwidya, S.TP., M.Si., memberikan apresiasi kepada Pusat Diklat Nasional yang telah menginisiasi pelatihan tersebut. Pengelolaan limbah kini menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap SPPG.
Ia menyebutkan, hingga saat ini peserta yang mengikuti pelatihan baru mencapai 142 orang dari lebih dari 700 tenaga SPPG yang tersebar di Provinsi Riau. Oleh karena itu, peserta yang telah mendapatkan pelatihan diharapkan dapat menularkan pengetahuan yang diperoleh kepada rekan-rekan lainnya. "Peserta yang sudah dilatih diharapkan dapat meneruskan informasi kepada tenaga SPPG lainnya mengenai pentingnya pengolahan limbah dapur secara baik dan benar," katanya.
Syartiwidya menjelaskan, dalam sistem pelaporan yang diterapkan nantinya, setiap SPPG diwajibkan mendokumentasikan volume limbah berdasarkan kategori bahan pangan. Pelaporan tersebut mencakup jumlah limbah karbohidrat, protein, buah dan sayuran yang dihasilkan setiap hari, termasuk limbah yang berasal dari sisa makanan dalam wadah distribusi atau ompreng.
Selain itu, ia menilai evaluasi terhadap menu yang disajikan kepada siswa harus dilakukan secara berkala. Evaluasi tersebut diperlukan untuk mengetahui jenis makanan yang kurang diminati, apakah karena rasa, tekstur maupun faktor lainnya. "Petugas SPPG harus melakukan evaluasi ke sekolah mengenai menu mana yang tidak disukai, apakah karena tekstur atau rasa. Ini tentu akan mendorong petugas untuk lebih kreatif membuat variasi makanan agar habis dikonsumsi dan tujuan pemenuhan makanan bergizi gratis bagi anak-anak dapat tercapai," ujarnyanext


Komentar