.
Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah persoalan pembiayaan rumah sakit. Peningkatan biaya operasional, kebutuhan investasi teknologi, pengembangan fasilitas, serta tuntutan peningkatan kualitas pelayanan berlangsung di tengah kebutuhan rumah sakit untuk menjaga efisiensi.
Menurut Dr. dr. Dovy, efisiensi merupakan suatu keharusan, tetapi tidak boleh diterjemahkan sebagai upaya menekan biaya dengan mengorbankan kualitas pelayanan. "Biaya operasional dan kebutuhan investasi terus meningkat. Sementara itu, efisiensi tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan keselamatan pasien atau menurunkan kualitas pelayanan. Rumah sakit kecil dan menengah memerlukan dukungan lebih besar agar mampu bertahan dan berkembang," ujarnya.
Karena itu, PERSI diharapkan dapat menjadi wadah advokasi sekaligus forum pertukaran pengalaman mengenai strategi pengelolaan rumah sakit yang efisien, sehat secara finansial, namun tetap berorientasi pada mutu dan keselamatan pasien.
Persoalan berikutnya yang menjadi perhatian adalah masih adanya fragmentasi dalam sistem pelayanan kesehatan dan kesenjangan akses antarwilayah. Dr. dr. Dovy melihat penguatan jejaring antar-rumah sakit menjadi salah satu bagian penting untuk menjawab persoalan tersebut.
"Kita masih menghadapi fragmentasi sistem dan ketimpangan akses antarwilayah. Koordinasi rujukan belum sepenuhnya optimal, distribusi kapasitas pelayanan belum seimbang, dan data antar-rumah sakit belum sepenuhnya terintegrasi," katanya.
Menurutnya, rumah sakit tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Penguatan sistem rujukan, komunikasi antar fasilitas pelayanan kesehatan, pertukaran informasi serta pemanfaatan data perlu terus dikembangkan.
Dengan jejaring yang semakin kuat, pelayanan pasien diharapkan dapat menjadi lebih terintegrasi dan kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dapat dijawab secara lebih merata.
Di tengah perubahan teknologi dan sistem pelayanan kesehatan, kualitas sumber daya manusia menjadi faktor yang sangat menentukan. Dr. dr. Dovy menilai SDM rumah sakit tidak hanya dituntut memiliki kompetensi profesional sesuai bidangnya, tetapi juga harus mampu mengikuti perkembangan teknologi, memahami tata kelola dan memiliki kemampuan manajerial.
Persoalan tersebut semakin penting ketika dikaitkan dengan kebutuhan regenerasi kepemimpinan rumah sakit. Menurutnya, rumah sakit perlu menyiapkan calon-calon pemimpin masa depan secara sistematis agar keberlanjutan transformasi tidak bergantung pada satu figur pemimpinnext


Komentar