Dandim 0311/Pessel Terenyuh Saksikan Kehidupan Evi

Metro- 12-12-2021 20:33
Dandim 0311/Pessel Letkol Inf Moch Suherli bersama istri saat menemui Evi dengan latar belakang gubuk terpalnya, Sabtu (12/12). (Foto :SNM)
Dandim 0311/Pessel Letkol Inf Moch Suherli bersama istri saat menemui Evi dengan latar belakang gubuk terpalnya, Sabtu (12/12). (Foto :SNM)

Penulis: Snm

Painan, Arunala -- Komandan Kodim (Dandim) 0311/Pesisir Selatan (Pessel), Letkol Inf Moch Suherli merasa terenyuh saat melihat dari dekat kondisi kehidupan pasangan suami istri (pasutri) Herpendi (30) dan Evi (35) yang ada di Kampung Amping Parak, Nagari Amping Parak, Kecamatan Sutera, Pessel, Sabtu (12/12).

Pasutri yang menghidupi tiga orang anaknya itu masing-masing Ulfa (17), Fadli (9) dan Yasmin (5), tinggal di sebuah gubuk yang bisa dikatakan jauh dari layak huni.

Betapa tidak, gubuk yang didiami pasutri tiga anak itu berukuran 2 x 2 meter persegi. Atap dan dinding gubuk itu hanya ditutupi terpal plastik berwarna biru, dan tanpa kamar atau sekat di dalam gubuk itu. Tidak hanya itu, gubuk tersebut masih berlantai tanah dan hanya ditutupi tikar seadanya.

Baca Juga

Kehadiran Letkol Inf Moch Suherli didamping istrinya Deyanti Ayu Marlisa Suherli ke "rumah" Evi dan Herpendi itu, setelah dirinya mendapat laporan dari Danramil Surantih yang menyebutkan ada pasutri di Amping Parak yang tinggal bersama tiga anaknya di sebuah gubuk yang tidak layak huni.

Moch Suherli dan rombongan yang saat itu sedang melakukan penyerahan bantuan sembako dan pakaian layak pakai bagi warga Kampung Ujung Batu Air Tambang, Kecamatan Ranah Pesisir, yang jadi korban tanah longsor sebulan yang lalu.

Penyerahan bantuan pada warga itu dilakukan dalam rangka kegiatan bakti sosial memperingati hari Juang TNI AD ke-75 yang akan diperingati pada 15 Desember nanti.

Penjelasan Evi, suaminya hanya bekerja sebagai buruh lepas, sedangnya dirinya bekerja sebagai buruh tani lepas dengan gaji diterima Rp75 ribu rupiah per hari. Dia bersama suami berikut tiga orang anaknya tinggal satu atau di dalam gubuk terpal itu.

"Kalau ado nan mamanggia karajo yo ambo karajo, tapi bilo ndak ado nan mamanggia tapaso ndak karajo, dan untuak sahari-hari kami makan sacukuiknyo sajo (Kalau ada panggilan orang ke ladang ya kerja, kalau nggak ada panggilan kerja ya nggak kerja, untuk biaya sehari - hari makan ya secukupnya saja," kata Evi ketika ditemui Dandim dan rombongan.

Mendapati pengakuan polos dari Evi itu, Moch Suherli merasa terenyuhm bahkan dirinya mengaku prihatin dengan kondisi yang dialami pasutri ini.

"Atas nama pribadi, keluarga dan isntitusi, saya sangat ikut prihatin atas cobaan yang sedang dialami Evi dan keluarganya itu. Mudah- mudahan dengan adanya bantuan yang kami serahkan berupa sembako dan lainnya bisa membantu kehidupan pasutri ini," ucap Moch Suherli.

Tidak sampai di situ, pihak Dandim 0311/Pessel dengan dibantu warga lainnya, secara bergotong royong mendirikan bangunan baru layak huni untuk tempat tinggal Evi dan keluarganya di lokasi yang bersebelahan dengan tempat tinggalnya semula.

Bahkah dari informasi yang didapat, setelah Dandim, bantuan bagi keluarga Evi juga datang dari Pemkab Pessel melalui Baznas setempat juga akan menyusul.

Evi yang mendapat bantuan dari Dandim 0311/Pessel itu mengucapkan terima kasihnya kepada Dandim beserta istri dan pihak yang telah rela membantu dia dan keluarganya.

Komentar