Mencari Benang Merah Tata Kelola Komoditi Ekspor Sumbar

Ekonomi- 11-01-2023 20:27
Anggota DPRD Sumbar bersama asosiasi komoditi ekspor Sumbar bahas ranperda Tata Kelola Komoditi Unggulan Perkebunan Sumbar, Rabu (11/1). (Dok : Istimewa)
Anggota DPRD Sumbar bersama asosiasi komoditi ekspor Sumbar bahas ranperda Tata Kelola Komoditi Unggulan Perkebunan Sumbar, Rabu (11/1). (Dok : Istimewa)

Penulis: Arzil

Padang, Arunala.com - Selain seminar menyangkut ranperda tanah ulayat, DPRD Sumbar melalui Komisi II pada hari bersamaan, yakni Rabu (11/1), juga menyelenggarakan seminar yang mengupas ranperda Tata Kelola Komoditi Unggulan Perkebunan, yang diikuti oleh Asosiasi Perkebunan yang ada di Sumbar.

Acara dibuka Wakil Ketua DPRD Sumbar, Suwirpen Suib itu, dan dilanjutkan dengan penyampaian makalah oleh Agnes Verawaty Silalahi dari Kementerian Pertanian (Kementan) via zoom meeting, dan dilanjutkan pemaparan makalah oleh Dekan Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Dr. Ir. Indra Dwipa, MS.

Dalam paparannya, Indra Dwipa menjelaskan dengan sangat rinci tentang komoditi kakao, sawit, gambir, dan karet yang merupakan komoditi terbaik dan unggul di Indonesia bahkan internasional.

Baca Juga

"Pada akhir tahun 2000-an dan tahun 2010-an awal, kakao Sumbar menjadi primadona dengan harga yang cukup tinggi dan bahkan juara II Internasional untuk tingkat kualitas terbaik dunia," ujarnya.

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Andalas tersebut juga menjelaskan, sawit pun pernah menjadi primadona dengan nilai harga tertinggi, yaitu di atas empat ribu rupiah.

Tak kalah dengan karet dan gambir yang masuk dalam salah satu tanaman yang sangat subur di Sumbar.

"Kita tentu bangga dengan kesuburan dan kadar hujan yang sangat memadai di wilayah ini. Bicara soal gambir, 80 persen kebutuhan gambir dunia itu berasal dari Sumbar, kita tidak main-main dengan hal ini, tinggal lagi bagaimana kita mempertahankan dan meningkatkan kualitas yang telah ada ini, apa itu tentang edukasi petani dan hal lainnya yang nanti akan kita lakukan," ucap Indra Dwipa.

Walau Indra Dwipa menerangkan potensi gambir, kakao dan sawit Sumbar sangat berkualitas, namun pihak asosiasi pertanian dan perkebunan di Sumbar masih mengaku masih menyayangkan bahwa harga dari komoditi-komoditi tersebut masih ditetapkan oleh toke.

Padahal, sebut mereka, dalam sistem jual beli ada harga kesepakatan antara kedua belah pihak bukan hanya dari satu pihak saja.

"Toke itu yang menentukan harga kalau setuju mereka ambil dan kalau tidak, ya tidak dibeli atau diambilnya. Nah, ini dalam konsep jual beli tidak ada, seharusnya dalam sistem jual beli terjadi transaksi tawar-menawar yang berujung kepada kesepakatan kedua belah pihak, bukan hanya menguntungkan satu pihak," ujar perwakilan dari salah satu Asosiasi.

Anggota Asosiasi lain pun menanggapi dengan permasalahan yang tak kalah pentingnya, yaitu tentang harga pupuk yang kelewat mahal sementara harga jual sangat rendah.

"Bagaimana mungkin kita mempertahankan satu komoditi sedangkan kita tak memberi kemudahan kepada para petani, misalkan saja kakao," ujarnya.

Sekarang, lanjut dia, kakao sudah menurun dan orang-orang mulai beralih ke tanaman lain karena dianggap terlalu sulit merawatnya dan harga jual yang rendah.

"Nah, kita harus hadir di sana dan mengedukasi para petani karena seperti yang telah dijelaskan tadi kualitas kakao kita itu terbaik dunia. Jadi jangan sampai petani-petani kita tak mendapatkan untung apa-apa selain keringat mereka sendiri," ujarnya.

Komentar