.
Setelah itu, kirimkan lagi karya ilmiah yang dibuat dan juga posternya, kemudian bagi 60 tim yang masuk penilaian finalis akan lalukan presentasi dihadapan tim penilai di Undip.
Adapun kriteria penilaian tim juri terhadap karya ilmiah mahasiswa itu lanjutnya, yaitu menyangkut ide, kemudian presentasi, selanjutnya kemampuan argumentasi dalam sesi tanya jawab dengan dewan juri dari beberapa negara termasuk Indonesia.
Refa mengaku, ide karya ilmiah yang dibuat bersama teman satu timnya itu menyangkut bidang inovasi dengan membuat permen keras dari katekin gambir untuk obat radang sendi.
Ia menjelaskan alasan dia bersama tim buat karya ilmiah yang inovatif itu, karena dirinya menilai gambir memiliki banyak manfaat, tidak hanya untuk buat bahan pewarna kain atau teman untuk makan sirih saja, tapi bisa juga dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan.
"Setelah diteliti dan kebetulan saya mahasiswa kedokteran di Unand, menemukan katekin gambir rupanya bisa dijadikan obat pencegah radang sendi yang lebih dikenal dengan nama rematik (rheumatoid arthritis)," beber Refa.
Terkait katekin gambir yang dibuat dalam bentuk permen keras, Refa mengaku hal itu dilakukan sebagai bentuk inovasi baru, sekaligus juga untuk meningkatkan nilai jual dari katekin gambir tersebut.
"Selain itu, inovasi yang kami teliti ini tidak hanya sekadar sebagai terapi dan mengobati, tapi kami akan membuat untuk pengobatan juga," kata Refa Rahmaddiansyah.


Komentar