.
"Saat ini masih dalam proses pemeriksaan sampel hasil autopsi. Jika sudah selesai, ketua tim yang akan segera menyerahkan hasil autopsi ulang terhadap jenazah Brigadir J ke Bareskrim Polri," ungkap alumni Sp1 Forensik dan Medikolegal FK UI ini.
Selain terlibat dalam tim autopsi ulang Brigadir J, Dr dr Rika F Susanti SpFM (K) telah malang melintang dalam menangani berbagai kasus.
"Paling berkesan itu, melakukan autopsi terhadap dua kakak beradik yang ditemukan meninggal dalam keadaan tergantung di ruang tahanan polisi. Kasus ini menjadi kontroversi dan trending topic," ingat Rika.
Pengalaman lain yang menarik diingat, sebut Rika, terjun ke lapangan untuk mengidentifikasi korban bencana gempa bumi di Yogyakarta tahun 2006.
Kemudian, ikut berbagai kegiatan identifikasi seperti pengeboman Hotel JW Marriot, Jakarta, kapal tenggelam di perairan sekitar pulau Jawa, dan kecelakaan pesawat Sukhoi.
"Saat Kota Padang diguncang gempa tahun 2009, saya juga terlibat dalam proses identifikasi besar," ujar alumni SMAN 1 Padang ini.
Dokter Forensik bukan Pilihan yang Salah
Rika pun mengenang awal-awal dia mengambil spesialis forensik usai menamatkan studi S-1 Kedokteran FK Unand. Bagian Forensik menjadi perhatiannya ketika ia mengikuti seleksi dosen di FK Unand.
"Bagian Forensik ketika itu, hanya ada satu dosen spesialis forensik yang sudah senior. Ini menjadi hal menarik bagi saya. Setelah dicari penyebabnya, ternyata tidak ada yang mau menjadi dokter forensik karena takut berhubungan dengan mayat," kenang Rika.
Ia mengaku banyak celotehan yang diterimanya ketika memutuskan mengambil forensik. Ada yang berceloteh; forensik akan berhubungan dengan mayat. Ahli forensik itu serem dan hal-hal menakutkan.
"Setelah menamatkan spesialis, justru saya bangga menjadi dokter forensik perempuan pertama di FK Unand. Kondisi kini, cukup banyak junior di FK Unand berminat dengan keilmuan forensik," ungkapnya.
Saat ini, sebut Rika, ilmu forensik sudah berkembang luas. Tidak sekadar berkaitan dengan pemeriksaan jenazah atau menyangkut kematian (patologi forensik), juga berkaitan dengan bidang forensik klinik.
Kasus yang ditangani, misalnya, kasus penganiayaan, kasus kecelakaan lalu lintas, kejahatan seksual hingga kekerasan terhadap anak.
"Pemeriksaan terhadap kasus seperti ini secara kuantitas lebih mendominasi dibanding pemeriksaan kasus kematian," tutur Staf Bagian Forensik FK Unand/RSUP Dr M Djamil Padang ininext


Komentar