.
Dimana pada masing-masing blok terdapat 10 rumah tangga yang di data. Jumlah sampel ini ia katakan juga meningkat hampir tiga kali lipat dibanding tahun 2021 lalu.
"Jumlah sudah dipastikan secara statistik memenuhi persyaratan untuk menggambarkan kondisi. Margin of error di bawah 5 persen dan relative standard error maksimal 25 persen," ujarnya.
Walau begitu, Ia menyampaikan kelemahan metode sampling tetap ada. Karena dilakukan secara acak pada blok sensus yang sama sekali berbeda dengan tahun sebelumnya.
Dia melanjutkan, bisa saja sampel yang terambil dominan berasal dari daerah-daerah yang menjadi lokus-lokus stunting, sehingga fluktuatif hasil data sampling menjadi hal lumrah.
Adapun hasil survey SSGI mencatat angka persentase prevelansi stunting dari yang terendah hingga tertinggi di Sumbar yaitu, Sawahlunto 13,7 persen, Padangpanjang 16,8 persen, Bukittinggi 16,8 persen, Payakumbuh 17,8 persen, Kota Solok 18,1 persen, Pariaman 18,4 persen, Tanahdatar 18,9 persen, Padang 19,5 persen, Kabupaten Solok 24,2 persen, Limapuluh Kota 24,3 persen, Agam 24,6 persen, Dharmasraya 24,6 persen, Padangpariaman 25 persen, Pasaman 28,9 persen, Pessel 29,8 persen, Sijunjung 30 persen, Solok Selatan 31,7 persen, Mentawai 32 persen dan Pasaman Barat 35,5 persen.
Sementara penurunan prevelansi stunting paling signifikan dialami Kabupaten Solok sebesar 15,9 persen, dan kenaikan tertinggi dialami Pasaman Barat sebesar 11,5 persen.


Komentar