Padang, Arunala.com - Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi di Sumbar masih tinggi selama tahun 2022.
Kejadiannya paling banyak saat sang ibu di masa nifas. Data tahun 2022, ditemukan sebanyak 113 ibu hamil meninggal dunia.
Sedangkan bayi yang meninggal jauh lebih tinggi, yakni 959 kasus.
Angka ini bahkan meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Kasus kematian ibu terbanyak saat masa nifas yang menyentuh angka 46 persen, dan saat kehamilan 36 persen.
Lalu 18 persen terjadi saat persalinan, 76,7 persen kematian terjadi di rumah sakit.
Penyebab kematian ibu pada tahun 2022 disebabkan oleh pendarahan 22 kasus, hipertensi dalam kehamilan 29 kasus, dan infeksi 5 kasus.
Sedangkan 59 kasus dengan penyebab lainnya dimana terbanyak adalah penyakit penyerta.
"Faktor sosial yang menyebabkan kematian ibu adalah keterlambatan mengenali tanda bahaya selama kehamilan dengan risiko cukup tinggi. Terlambat untuk mencapai fasilitas persalinan dan terlambat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan," ungkap Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah saat pembukaan Pertemuan Ilmiah 4Th Regional Obgyn Sumatera Update (ROSADE 2023) di Hotel Truntum Padang, Minggu (12/2) malam.
Selain empat faktor keterlambatan tersebut, tutur Mahyeldi, faktor lainnya terlalu dekat jarak persalinan, terlalu tua, dan kurangnya partisipasi masyarakat karena tingkat pendidikan ibu masih rendah.
"Kemudian, tingkat sosial ibu, kedudukan wanita dalam keluarga masih rendah serta sosial budaya kurang mendukung," ungkap Mahyeldi.
Mahyeldi juga menyebutkan pemerintah menargetkan penurunan stunting menuju 14 persen pada 2022.
Sementara angka stunting di Sumbar 25,2 persen. Berarti naik 1 persen dibanding tahun 2021.
"Peran ibu hamil sangat penting, baik saat kehamilan maupun persalinan. Termasuk pencegahan anemia telah mulai dilakukan sejak remaja, ibu hamil dan ibu hamil yang mengalami kekurangan energi koloid," ucapnya.
Ibu hamil yang sehat, tegas Mahyeldi, akan melahirkan bayi yang sehat dan berkualitasnext


Komentar