Seminar Nasional Program Nasional di RSUP M Djamil: Butuh Kolaborasi untuk Atasi Masalah Stunting

Metro- 17-07-2023 13:05
Foto bersama Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah, Dirut RSUP Dr M Djamil Dr dr H Dovy Djanas SpOG KFM MARS, Kepala Dinas Kesehatan Sumbar dr Lila Yanwar MARS dan narasumber. (Dok : Istimewa)
Foto bersama Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah, Dirut RSUP Dr M Djamil Dr dr H Dovy Djanas SpOG KFM MARS, Kepala Dinas Kesehatan Sumbar dr Lila Yanwar MARS dan narasumber. (Dok : Istimewa)

.

Selanjutnya, kata Mahyeldi, perlu disiapkan kompetensi petugas dan melengkapi peralatan kesehatan.

"Kemudian meningkatkan anggaran dan meningkatkan pengetahuan masyarakat akan pentingnya skrining hipotiroid kongenital terhadap bayi baru lahir," ucapya.

Ia juga mengatakan berdasar data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 prevalensi stunting Sumbar mengalami peningkatan. Dari 23,3 persen tahun 2020 menjadi 25,2 persen.

Sementara data riil yang dilakukan petugas puskesmas dan dilaporkan ke e-PPGBM prevalensi stunting 9,9 persen.

"Meski terjadi perbedaan data hal ini tidak perlu didebatkan. Akan tetapi diperlukan kerja nyata di lapangan. Sehingga angka stunting ini bisa kita tekan," ungkap Mahyeldi.

Ia meminta kepala dinas kesehatan provinsi, kabupaten dan kota untuk memperhatikan kasus stunting ini.

Dana yang dialokasikan untuk stunting hendaknya dapat menjadi solusi dalam pencegahan kasus tersebut. Begitu juga program disiapkan hendaknya tepat sasaran.

"Beberapa intervensi telah dilakukan dalam upaya menekan stunting. Salah satunya telah dibentuknya tim percepatan pencegahan stunting baik provinsi, kota dan kabupaten. Dimana RSUP Dr M Djamil masuk dalam tim tersebut," ucapnya.

Ia menegaskan dengan sinergisitas seluruh stakeholders dapat mengintervensi kasus stunting ini.

"Harapan pada tahun ini, angka stunting di Sumbar turun. Dimana target pemerintah pusat pada 2024 terjadi penurunan 14 persen. Dan bonus demografi pada tahun 2045 mendatang menjadi berkah dengan mendapatkan generasi berkualitas dan berdaya saing," tegas Mahyeldi.

Sementara Direktur Utama RSUP Dr M Djamil Dr dr H Dovy Djanas SpOG KFM MARS mengatakan angka kematian ibu menjadi perhatian nasional.

Pada tahun 2022, angka kematian ibu masih tinggi berkisar 183/100.000 kelahiran.

Salah satu upaya menekan angka kasus itu, dapat dilakukan dengan penguatan pilar safe motherhood. Dimana pilar pertamanya pelayanan kontrasepsi dan keluarga berencana.

"Oleh karena itu, pemenuhan akses dan kualitas program keluarga berencana sudah seharusnya menjadi prioritas dalam pelayanan kesehatan," ucapnya.

PKBRS, sebut Dovy, salah satu mata rantai penting untuk memperkuat pelayanan KB menjadi bagian yang integral dan pelayanan kesehatannext

Komentar