Agam, Arunala.com - Nagari Lawang telah lama dikenal sebagai sentra penghasil gula saka atau gula merah di Sumbar. Sebagian besar wilayah nagari yang itu adalah perkebunan tebu yang diwariskan turun temurun.
Namun demikian, bagi sebagian masyarakat menganggap limbah tebu mungkin tidak berharga. Padahal manfaat limbah tebu menyimpan potensi yang menjanjikan.
"Limbah daun maupun ampas tebu termasuk sampah organik. Dimaksud sampah organik ini, sampah yang membusuk atau dapat terurai kembali dengan bantuan bakteri lain," kata Pemilik Kebun Kita Inhitani Management, Joni Mardianto SS MPar saat Sosialisasi Pengelolaan Sampah Organik di Nagari Lawang, Selasa (19/12).
Sosialisasi ini turut dihadiri wali nagari, Bamus, Bhabinkamtibmas, masyarakat dan pemuda Lawang.
Ia menjelaskan beberapa jenis sampah organik dapat dimanfaatkan secara langsung tanpa proses daur ulang. Seperti daun tebu, jagung dan jerami bisa dimanfaatkan untuk makanan ternak.
Kemudian serbuk kayu dan sekam (berambut) bisa digunakan untuk bahan bakar. Limbah pabrik tahu dan limbah rumah tangga juga bisa digunakan untuk makanan ternak.
"Pemanfaatan limbah organik secara langsung ini memberikan manfaat. Selain mengurangi biaya produksi, juga mengurangi jumlah limbah," tutur CEO PT Amanah Triwania Wisata ini.
Dosen Politeknik Negeri Padang itu mengatakan, dari sampah organik tersebut dapat dihasilkan. Yakni komposting berupa bahan-bahan kompos yang digunakan untuk pupuk.
Maggot yang dimanfaatkan masyarakat sumber kompos atau pupuk organik yang tidak berbau.
"Penggunaan maggot untuk pertanian juga dapat menekan penggunaan pupuk kimia," sebut Joni.
Terakhir, sebut Ketua DPD Masata Sumbar itu, biogas. Dimanfaatkan sebagai bahan bakar yang dihasilkan oleh kotoran hewan dan sisa makanan.
"Dengan pengelolaan sampah organik ini dengan baik dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Bahkan mampu mengatasi permasalahan pencemaran lingkungan," tukas Joni. (ril)


Komentar