Menko PMK: Sumbar Perlu Terapkan Kurikulum Bencana dan Simulasi Bencana

Metro- 26-04-2024 14:56
Menko PMK Muhadjir Effendy memberikan arahan pada Seminar Nasional dan Simulasi Bencana Komunitas Muhammadiyah Disaster Management Crisis (MDMC), di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Humas Kemenko PMK
Menko PMK Muhadjir Effendy memberikan arahan pada Seminar Nasional dan Simulasi Bencana Komunitas Muhammadiyah Disaster Management Crisis (MDMC), di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Humas Kemenko PMK

Padang, Arunala.com--Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy meminta Pemprov, Pemkab dan Pemko di Sumbar perlu merancang pencegahan risiko bencana.Hal ini dikarenan kondisi geografis yang berada di ring of fire, sehingga rentan terhadap megathrust yang menyebabkan Sumbar memiliki frekuensi bencana sangat tinggi.

"Untuk mencegah risiko dan banyaknya korban bencana, maka perlu langkah mitigasi bencana sejak dini. Hal ini bisa dimulai dengan memasukkan mitigasi kebencanaan ke dalam kurikulum sebagai intrakurikuler dalam pembelajaran di sekolah dan perguruan tinggi," kata Muhadjir Effendy saat memberikan arahan pada Seminar Nasional dan Simulasi Bencana Komunitas Muhammadiyah Disaster Management Crisis (MDMC), di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat sebagaimana dikutip dari situs resmi Kemenko PMK, Kamis (25/4/2024).

Muhadjir berpesan bencana harus menjadi bagian kurikulum, intrakurikuler. "Ada mata pelajaran khusus bencana. Dan itu tidak usah membahas bencana secara umum. Tapi bencana secara yang sering terjadi spesifik di daerah itu," ujarnya.

Selain itu, sebagai langkah mitigasi bencana, maka perlu dilakukan simulasi bencana oleh pemerintah daerah. Hal ini menurutnya, bisa dijadikan sebagai program pemerintah daerah yang dilakukan secara rutin dan berkala, yang kemudian diterapkan di instansi-instansi, dan seluruh kalangan masyarakat.

"Karena kalau ada simulasi selalu dilakukan terus bisa memelihara kewaspadaan, itu penting," ucap dia.

Menko Muhadjir menyampaikan, meskipun masyarakat Sumbar tinggal di daerah dengan potensi bencana yang besar. Tetapi, dengan simulasi yang dilakukan secara rutin dan menjadi habit, maka risiko bencana bisa ditekan. Sehingga, kerusakan akibat bencana lebih kecil, dan lebih banyak nyawa yang bisa terselamatkan.

"Jangan sampai karena tidak ada simulasi, karena sudah 20 tahun tidak bencana, tiba-tiba ada bencana. Nah itu yang membuat banyak korban, banyak kerusakan yang tidak bisa dihindari akibat dari masyarakat yang terlena sudah lupa bahwa dia di atas retakan tanah yang berbahaya karena tidak ada simulasi," jelasnyanext

Komentar