Wamenkes Dorong Hilirisasi IGRA RS M. Djamil dan PDRPI FK Unand

Metro- 18-09-2026 17:38
Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR saat kunjungan kerja di RS M. Djamil, Jumat (18/9/2026). IST
Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR saat kunjungan kerja di RS M. Djamil, Jumat (18/9/2026). IST

.

"Sebagian besar bahan baku sudah dibuat di dalam negeri seperti protein induktor dan detektor. TKDN saat ini sekitar 70 sampai 75 persen," ujarnya.

Andani menyebut tingkat komponen dalam negeri atau TKDN produk IGRA saat ini berada pada kisaran 70 hingga 75 persen. Angka tersebut, menurutnya, masih memiliki peluang untuk ditingkatkan seiring dengan berkembangnya kemampuan industri dan riset dalam memproduksi bahan baku di Indonesia.

Ia menargetkan TKDN produk tersebut dapat mencapai sekitar 85 persen pada 2027. Peningkatan tersebut dapat dilakukan apabila komponen antibodi yang dibutuhkan dalam proses produksi telah mampu dibuat sendiri di dalam negeri.

"Diharapkan tahun 2027 TKDN bisa mencapai 85 persen jika antibodi sudah dapat dibuat sendiri," tuturnya.

Bagi Andani, pengembangan IGRA memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan satu jenis produk diagnostik. Proses tersebut menjadi bagian dari pembangunan ekosistem bioteknologi kesehatan nasional, mulai dari penguasaan bahan baku, kemampuan penelitian, pengembangan teknologi, hingga produksi.

Kemampuan mengembangkan produk secara mandiri dinilai penting karena keberhasilan sebuah inovasi kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menemukan metode baru. Inovasi juga harus mampu melewati tahapan pengembangan, pengujian, produksi, hingga dapat dimanfaatkan dalam pelayanan kesehatan.

"Saya menilai kemampuan mengembangkan produk dari bahan baku, proses penelitian, hingga menghasilkan produk diagnostik menjadi tahapan penting dalam membangun ekosistem bioteknologi kesehatan nasional," tegasnya. (*)

Komentar