Malamang dan Gandang Tasa Padangpariaman Masuk WBTB

Wisata- 10-03-2022 12:27
Wabup Rahmang menerima sertifikat ketetapan dua WBTB yang baru dari Gubernur Sumbar Mahyeldi, belum lama ini di Mentawai. (Dok : Istimewa)
Wabup Rahmang menerima sertifikat ketetapan dua WBTB yang baru dari Gubernur Sumbar Mahyeldi, belum lama ini di Mentawai. (Dok : Istimewa)

Penulis: Arzil

Padangpariaman, Arunala - Dua tradisi yang ada di Kabupaten Padangpariaman dapat pengakuan dan penetapan warisan budaya tak benda (WBTB) dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Dua tradisi itu adalah Malamang dan Gandang Tasa. Pengakuan itu ditandai dengan diserahkannya sertifikat ketetapan oleh Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, kepada Wakil Bupati Padangpariaman, Rahmang, dalam rakor Pemprov Sumbar dengan pemkab dan pemko di Tuapejat, Kabupaten Kepulauan Mentawai beberapa hari lalu.

"Dengan masuknya tradisi malamang dan gandang tasa, menjadikan ada 12 WBTB yang dimiliki Padangpariaman saat ini," ujar Rahmang kepada media di ruang kerjanya di Kawasan IKK Paritmalintang, Kamis, (10/3).

Baca Juga

Rahmang menyebutkan, sejatinya berbudaya bukan hanya perkara seberapa banyak nilai budaya (kesenian, tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, permainan rakyat, olah raga tradisional, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, bahasa dan situs) dan cagar budaya yang dapat dilestarikan.

Dia berpendapat, bagaimana nilai budaya yang ada bisa dilestarikan dan menjadi warisan generasi mendatang.

"Berbudaya sejatinya bagaimana kita memastikan anak cucu kita bisa memahami dengan sesungguhnya arti keberadaannya di hadapan Sang Pencipta," kata Rahmang.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Padangpariaman, Anwar menyebutkan dalam beberapa tahun terakhir dinasnya melalui Bidang Kebudayaan sangat berkomitmen tinggi dalam upaya pelestarian warisan budaya maupun pelestarian cagar budaya.

"Ini sejalan dengan Visi dan Misi Kepala Daerah untuk menjadikan Padangpariaman Berjaya, Berkelanjutan, Religius, Sejahtera dan Berbudaya. Menjaga kelestarian budaya daerah merupakan hal yang sangat penting, mengingat budaya menunjukkan karakter daerah, daerah yang berkarakter adalah daerah yang berbeda dari daerah lainnya," kata Anwar.

Lebih lanjut Anwar menjelaskan, penetapan warisan budaya tak benda Padangpariaman untuk dijadikan warisan budaya tak benda Indonesia (WBTbI), bukan perkara mudah. Banyak syarat yang harus dipenuhi untuk mewujudkan itu.

Diantaranya harus memenuhi: Aspek kajian akademis tentang ke-orisinilannya, kemudian adanya maestro yang paham tentang warisan budaya tersebut.

Selanjutnya ada bukti dalam bentuk video asli dan foto yang menggambarkan sakralnya warisan budaya yang diusulkan. Setelah itu adanya rencana tindak lanjut daerah tentang pelestariannya.

"Setidaknya ada enam syarat yang harus dipenuhi untuk mendapat pengakuan dari pemerintah pusat melalui Pak Mentri," pungkas Anwar.

Adapun warisan budaya tak benda yang ada di Padangpariaman yang telah ditetapkan sebagai WBTbI yaitu: Tabuik (2013), Kaba Cindua Mato (2014), Indang (2014), Silek (2014), Ulu Abek (2015) dan Rabab (2015).

Selanjutnya Salawat Dulang (2015), Pasambahan (2015), Tari Piriang (2016), Randai (2017), Basafa (2020), Gandan Tasa (2021), serta Malamang (2021).

"Kemudian tahun 2022 ini sedang Proses Penetapan, budaya "Maniliak Bulan"," kata Anwar.

Komentar