Kejaksaaan Berhasil Tangkap Zafrul Zamzami

Metro-502 hit 02-09-2020 22:56
Zafrul Zamzami (baju koko dan berkopiah) usai ditangkap Tim Intelijen dan Pidana Khusus Kejati Sumbar bersama Tim Kejari Sijunjung. (Dok : Istimewa)
Zafrul Zamzami (baju koko dan berkopiah) usai ditangkap Tim Intelijen dan Pidana Khusus Kejati Sumbar bersama Tim Kejari Sijunjung. (Dok : Istimewa)

Penulis: Can | Editor: MN. Putra

Padang, Arunala -- Sempat menjadi buronan Kejaksaan Negeri (Kejari) Sijunjung selama delapan tahun, akhir terpidana kasus korupsi kasus bantuan dana bergulir koperasi untuk pengembangan usaha dan penggemukan sapi potong impor Zafrul Zamzami (68) dapat ditangkap.

Terpidana itu ditangkap Tim Intelijen dan Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumbar bersama Tim Kejaksaan Negeri (Kejari) Sijunjung di sebuah rumah di kawasan Kalumbuk, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Selasa (1/9) kemarin sekitar pukul 18.30 WIB.

"Terpidana ditangkap tanpa perlawanan ketika hendak keluar rumah, dan bersikap kooperatif," kata Asisten Intelijen Kejati Sumbar Teguh Wibowo kepada wartawan di Kantor Kejati Sumbar seusai penangkapan terpidana.

Baca Juga

Usai ditangkap, sebut Teguh, terpidana yang mengenakkan baju koko dan kain sarung langsung dibawa ke Kantor Kejati Sumbar untuk menjalani proses administrasi, lalu dibawa ke Sijunjung untuk dijebloskan ke penjara.

Terpidana, jelas dia, terjerat kasus bantuan dana bergulir koperasi untuk pengembangan usaha dan penggemukan sapi potong impor dari Menteri Koperasi Negara Koperasi dan UMKM pada tahun 2003.

Teguh menjelaskan Zamzami yang merupakan mantan Kepala Dinas Koperindag dan Penanaman Modal Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung pada 2004, dan masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Kejaksaan sejak November 2012.

Pada hal proses persidangan terpidana ini telah berjalan cukup panjang, mulai dari putusan Pengadilan Negeri, kemudian banding ke Pengadilan Tinggi, lalu ke tingkat Kasasi.

Ditambahkan Teguh, putusan terakhir yang menjadi dasar eksekusi terpidana adalah putusan Mahkamah Agung (MA) RI Nomor 2116K/pid.sus/2010 tertanggal 26 Mei 2011. Dengan amar mengabulkan permohonan kasasi dari pemohon kasasi yaitu Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Sijunjung yang membatalkan putusan PT Pdg no.151/PID/2007/PT.PDG, dan mengadili sendiri perkara.

Putusan MA itu, terang Teguh, menyatakan Zafrul Zamzami terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dengan menjatuhkan pidana tiga tahun, denda Rp 50 juta subsider dua bulan kurungan.

Teguh melanjutkan, dengan ditangkapnya Zafrul Zamzami maka hingga saat ini, masih ada enam orang terpidana kasus korupsi yang masuk dalam daftar pencarian orang atau buronan Kejati Sumbar.

Dia merinci keenam buronan tersebut antara lain bernama Ramli Ramonasari yang ditangani Kejari Pariaman. Dia melakukan tindak pidana korupsi pekerjaan proyek penyedia air bersih di Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman tahun 2011.

Lalu, Khuslaini yang ditangani Kejari Solok. Buronan ini melakukan penyelewengan dana revalitasi pondok pemuda di Selasih, Kabupaten Solok tahun 2013. Putusan Mahkamah Agung pada tanggal 18 Agustus 2016.

Kemudian Juniadi buronan Kejari Solok juga. Dia melakukan tindakan penyelewengan dana bina lingkungan (DBL) dalam rangka mengembangkan usaha tani program kawalan pangan di wilayah Solok. Tindakan korupsi yang dilakukan buronan Junaidi ini pada tahun 2012-2013 dari PT Sang Hyang Seri Cabang Solok. Penyelewengan dana mencapai Rp 3 miliar.

Selanjutnya, Kejari Pasaman atas buronan bernama Ali Basyar. Perkara tindak korupsi dalam mengelola dan mengunakan anggaran kantor non belanja pegawai yang dilakoninya dengan kerugian negara Rp 99 juta lebih.

Selain itu, buronan bernama Agustinus Tri Siwi Roy terpidana yang ditangani Kejaksaan Mentawai. Terpidana melakukan penyalahgunaan keuangan negara dalam proyek pembuatan situs website.

Terkahir Dodi Bashwardjojo yang juga ditangani Kejari Mentawai. Dia juga Terpidana melakukan penyalahgunaan keuangan negara dalam proyek pembuatan situs website Mentawai.

"Kami akan terus berkoordinasi dengan pusat di bidang intelijen Kejaksaan Agung untuk memburu buronan ini. Kami akan monitor terus dengan berbagai cara. Sesuai moto kami, tidak ada tempat di Indonesia bagi para buronan. Untuk itu kami minta sebaiknya menyerahkan diri saja," tegas Teguh.

Komentar