.
Ia menekankan disitulah perbedaan situasi Pemilu di zaman Orde Baru dengan Pemilu di zaman reformasi. "Saat Pemilu di zaman orba, pemerintah mencurangi kontestan lain untuk melanggengkan kekuasaan Presiden Soeharto. Tapi Pemilu di zaman reformasi, kecurangan dilakukan oleh kontestan terhadap kontestan lain," ungkapnya.
Ia juga menyebutkan masalah lainnya menjelang Pemilu, banyak hoaks atau berita-berita bohong yang beredar di media sosial. Hoaks atau berita bohong itu dapat berpotensi memecah belah dan menimbulkan polarisasi di tengah masyakarat.
"Tidak bisa atas nama demokrasi, lalu orang memecah belah kehidupan bangsa dan negara kita. Membuat fitnah, mencaci maki dan sebagainya atas nama dmeokrasi dan hak asasi," tambah Mahfud.
Sementara itu Rektor Unand Prof Dr Yuliandri SH MH mengatakan kehadiran Mahfud MD pada kuliah umum itu, sebagai bentuk upaya mengajak mahasiswa untuk menciptakan pemilu yang damai.
"Bertemu dan berbincang langsung dengan Mahfud MD merupakan sebuah kesempatan yang sangat baik. Beliau ada adalah ahli hukum di Indonesia, banyak ilmu yang bisa didapatkan hendaknya oleh mahasiswa dari kuliah umum ini," harap Yuliandri.(ril)
Halaman 12


Komentar