Berkat AQUA, Warga Kayu Aro Berdaya dari Bank Sampah

Metro- 30-11-2023 17:17
Aktivitas pemilahan dan pemilihan sampah di kantor Bank Sampah Unit (BSU) Kelok Salayang Jorong Kayu Aro Nagari Batang Barus Kecamatan Gunung Talang Kabupaten Solok. (Dok : Istimewa)
Aktivitas pemilahan dan pemilihan sampah di kantor Bank Sampah Unit (BSU) Kelok Salayang Jorong Kayu Aro Nagari Batang Barus Kecamatan Gunung Talang Kabupaten Solok. (Dok : Istimewa)

Solok, Arunala.com - Dua tahun dua bulan sudah Bank Sampah Unit (BSU) Kelok Salayang Jorong Kayu Aro Nagari Batang Barus Kecamatan Gunung Talang Kabupaten Solok beroperasi. Dalam kurun waktu itu, bank sampah ini sudah memiliki 160 nasabah dengan mengumpulkan 26,5 ton sampah anorganik.

JORONGKayu Aro merupakan bagian dari pusat ibu kota Kabupaten Solok. Jorong ini termasuk daerah perlintasan sehingga banyak truk-truk dan kendaraan melintas. Aktivitas penduduk pun banyak. Belum lagi, jumlah penduduk di jorong tersebut semakin padat.

"Artinya semakin banyak jumlah penduduk tentu jumlah sampah yang dihasilkan setiap orang akan semakin banyak. Sehingga spot-spot tertentu yang kita temukan di Kayu Aro khususnya dijadikan tempat penumpukan sampah masyarakat," kata Direktur Bank Sampah Unit Kelok Salayang Sriluyanis kepada Arunala.com , Rabu (29/11).

Dengan kondisi penumpukan sampah itu, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Solok pun mempunyai kerja dan effort yang lebih untuk mengumpulkan sampah tersebut.

"Apalagi ada beberapa daerah yang tidak tercakup dengan kehadiran becak motor (betor) dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Solok. Betor itu tidak sampai masuk ke daerah tersebut," ucapnya.

Mengatasi fenomena tersebut, kata Sriluyanis, dibentuklah bank sampah diberi nama Bank Sampah Unit Kelok Selayang pada 21 Agustus 2021. Pendirian bank sampah itu merupakan inisiasi PT Tirta Investama Pabrik Solok bersama mitra pelaksana Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Sumatera Barat.

"Kehadiran bank sampah itu sejalan dengan program AQUA yakni memperbaiki lingkungan. Sekaligus mengubah mindset dan kebiasaan masyarakat agar semakin sadar dan peduli terkait permasalahan sampah. Dan meningkatkan keterampilan pengolahan sampah agar mampu meningkatkan nilai ekonomis untuk menambah pemasukan keuangan masyarakat sekitar," ucap peraih penghargaan Perempuan Berjasa dan Berprestasi dari Ditjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Tahun 2023 ini.

Diketahui, bank sampah adalah fasilitas untuk mengelola sampah dengan prinsip reduce, reuse dan recycle. Fungsi bank sampah tersebut sebagai sarana edukasi, perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah dan pelaksanaan ekosistem sirkular, yang dibentuk oleh masyarakat, badan usaha atau pemerintah daerah.

Ia menjelaskan Bank Sampah Unit Kelok Salayang dikelola oleh lima orang pengurus. Pengelolaan sampah difokuskan pada sampah anorganik atau sampah yang tidak mudah membusuk. Kegiatan bank sampah dilakukan dengan kegiatan pemilahan sampah anorganik seperti botol bekas, kardus bekas, dan sampah sisa rumah tangga lain. Sampah itu dikumpulkan masyarakat ke bank sampah.

"Kami pun juga memberikan layanan antarjemput sampah ke rumah-rumah masyarakat menggunakan kendaraan operasional berupa becak motor. Hal ini tentunya memudahkan bagi masyarakat yang jauh dari Bank Sampah Unit Kelok Salayang," ungkap Sriluyanis.

Proses pengambilan sampah anorganik dari nasabah ini setiap hari dilakukan. Karena pengurus bank sampah ini bekerja pun setiap hari mulai pukul 08.00 hingga menjelang magrib. Pihaknya menjemput sampah secara bergantian dikarenakan ada 160 nasabah dilayani.

"Untuk memudahkan sistem jemput, kami membuat grup WhatsApp. Biasanya diumumkan melalui grup WhatsApp, bagi nasabah yang sudah mengumpulkan sampah, nasabah langsung mengabari dan kita langsung menjemput ke rumah nasabah dengan kondisi sudah dipilah," tuturnya.

Ia mengatakan pihaknya tiada henti memberikan edukasi pengelolaan sampah kepada warga sebelum menjadi nasabah. Pengurus mendatangi secara door to door atau dari rumah ke rumah masyarakat. Termasuk melakukan edukasi ke sekolah-sekolah di sekitaran jorong.

"Kami mengajarkan masyarakat cara mengelola dan memilah sampah anorganik sehingga hasil sampah itu bernilai guna. Setelah bersedia menjadi nasabah, warga akan kami berikan kantong sampah yang telah disediakan sebelumnya oleh PT Tirta Investama Pabrik Solok," ucap Sriluyanis.

Tidak hanya kantong sampah saja, setiap nasabah juga dibekali buku tabungan seperti halnya menabung di bank. Setiap sampah yang dijemput akan ditimbang beratnya. Hasil beratnya itu akan dikonversikan dan ditabung ke tabungan. Untuk harga sampah sendiri tidak bisa ditentukan.

"Dari tabungan ini, nasabah boleh melakukan penarikan uang. Tidak tergantung pada berapa lama menjadi nasabah. Misal mereka mengumpulkan sampah banyak berarti jumlah sekian rupiah bisa mereka tarik. Tergantung kebutuhan dan kondisi berapa jumlah tabungan mereka," ucapnya.

Sriluyanis juga mengatakan sampah anorganik yang telah dipilah tidak serta merta dijadikan uang. Akan tetapi sebagian sampah anorganik itu di daur ulang kembali menjadi barang kerajinan. Daur ulang diartikan proses untuk mengembalikan sampah anorganik yang sudah tidak berguna menjadi berguna kembali.

"Sudah banyak produk kerajinan sampah yang kami hasilkan. Misal tempat botol minum, tempat tisu, tas, dompet dan karya kreatif lainnya. Semuanya dilakukan oleh pengurus bank sampah," ucapnya seraya mengatakan pihaknya masih terkendala dalam pemasaran produk kerajinan sampah ini.

Bagaimana dengan sampah organik? Ia mengatakan pengurus mengelola sampah organik dari sisa-sisa sampah dapur seperti sayuran serta buah menjadi ecoenzyme. Kemudian dimanfaatkan untuk menyemprot tanaman sehingga dapat menyuburkan tanah dan tanaman, menghilangkan hama, serta meningkatkan kualitas dan rasa buah dan sayuran.

"Dengan mengembangkan pertanian regeneratif tersebut, pada Selasa (31/1) lalu kami melakukan panen perdana daun prei," ungkapnya.

Menuai Prestasi

Dalam peningkatan kapasitas keilmuan dan manajemen bank sampah, kata Sriluyanis, PT Tirta Investama Pabrik Solok memberikan kesempatan kepada pengurus mengikuti pelatihan bank sampah. Termasuk studi tiru ke sejumlah bank sampah yang ada di Sumbar.

"Kemudian mendapatkan dukungan membangun kantor baru. Kita juga baru mendapatkan pinjaman lokasi dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Solok yang dimanfaatkan untuk pembangunan kantor. Selain sebagai kantor, diperuntukkan untuk menerima tamu, tempat membuat kerajinan dan memilah sampah," ungkapnya.

Selama dua tahun dua bulan berdiri, Bank Sampah Unit Kelok Salayang juga meraih berbagai prestasi. Teranyar, Direktur Bank Sampah Unit Kelok Salayang sendiri meraih penghargaan Perempuan Berjasa dan Berprestasi dari Ditjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Tahun 2023 bidang lingkungan.

"Bank sampah ini termasuk dalam penilaian Adipura mewakili Kabupaten Solok," tutur Sriluyanis.

Selain jalinan hubungan antaranggota, melalui serangkaian kegiatan yang diselenggarakan mampu menambah relasi dengan pihak luar dari setiap agenda kunjungan di Bank Sampah Unit Kelok Salayang. Jalinan relasi yang terbentuk di antaranya dengan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Barat, Dinas Lingkungan Kabupaten Solok, perwakilan sekolah, narasumber Project Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan kunjungan dari berbagai pihak lainnya.

"Jalinan relasi yang terbentuk bisa dimanfaatkan sebagai sarana berbagi ilmu dan pengetahuan," sebutnya.

Sriluyanis mengatakan kehadiran bank sampah telah memberi dampak bagi masyarakat. Bank sampah membuat masyarakat mengubah pemikiran mereka tentang sampah, dan akhirnya memperbaiki lingkungan. "Secara dampak ekonomi belum. Tapi bank sampah telah memberi tambahan pendapatan bagi masyarakat jorong," ucap Sriluyanis.

Keuntungan dari Sampah

Memilah dan memilih sampah telah menjadi salah satu aktivitas yang dilakukan warga Jorong Kayu Aro dalam dua tahun dua bulan terakhir ini. Memilah dan memilih sampah hanya merupakan aktivitas "sampingan" untuk menambah penghasilan. Bagi warga, mengumpulkan sampah bagaikan memanen emas yang tersembunyi. Sampah ternyata punya nilai ekonomi.

Hal inilah dirasakan Darlion, warga Jorong Kayu Aro ini. Lelaki 30 tahun ini, tak henti mengobrak-abrik sesuatu di halaman sekolah. Ia memilah tumpukan sampah menjadi beberapa bagian dan kemudian memisahkannya dalam karung. Kegiatan ini sudah menjadi kesehariannya.

"Sampah-sampah ini memang harus dipilah, biar terlihat rapi. Kalau dicampur semua susah untuk menguraikan kembali," ujarnya.

Dulu ia tak peduli dengan sampah. Sampah seolah sesuatu yang tak berguna. Kini, Darlion adalah salah satu nasabah aktif di Bank Sampah Unit Kelok Salayang. "Saya tahu memilah sampah ini berkat bank sampah ini. Saya mendengar sosialisasi mereka tentang sampah yang bisa dimanfaatkan. Baik menjadi uang atau bisa memberikan dampak baik lainnya bagi lingkungan," ungkap penjaga sekolah ini.

Bagi Darlion, kehadiran bank sampah adalah angin segar. "Ibaratnya, bank sampah seperti sekolah yang memberinya pengetahuan sekaligus pemberdayaan," ungkapnya.

Warga lainnya, Juliarnis mengumpulkan sampah di waktu luangnya. "Kadang pagi sebelum berangkat ke sawah. Kadang sore sepulang sawah. Kadang siang kalau lagi tidak ada ke sawah," ujarnya.

Menurut Juliarnis, sampah yang dikumpulkan merupakan sampah domestik atau rumah tangga. "Sampah yang ada di rumah atau sekitar rumah dikumpul. Kemudian dipilah dan dipilih sesuai dengan jenisnya apakah sampah plastik atau non-plastik," ungkap perempuan berusia 53 tahun ini.

Sampah-sampah tersebut kemudian dijual ke Bank Sampah Unit Kelok Salayang. Bank itu buka setiap hari dari pukul 08.00 sampai menjelang Magrib. Juliarnis menyetor sampah seminggu sekali atau dua minggu sekali.

"Tergantung berapa banyak sampah yang terkumpul. Kalau jumlahnya sudah cukup langsung disetor. Tapi kalau belum, masih tanggung, tunggu minggu berikutnya sekalian setor," ujar Juliarnis yang bekerja sebagai petani ini.

Manfaat yang dirasakan dengan kehadiran Bank Sampah Unit Kelok Salayang, menurut Juliarnis, selain menambah penghasilan keluarga. Juga membuat lingkungan lebih bersih dibanding sebelumnya. "Walau tidak besar yang pasti ada penghasilan tambahan yang bisa jadi simpanan," ungkapnya.

Di samping itu lanjutnya, lingkungan tempat tinggalnya yang selama ini terkesan kotor karena banyak sampah berserakan, sekarang tidak. "Tidak terlihat lagi sampah berserakan karena semua sampah bisa disetor ke Bank Sampah Unit Kelok Salayang," ucap Juliarnis.

Dewi Nanda, warga Jorong Kayu Aro lainnya dalam waktu setahun terakhir memperoleh penghasilan tambahan dari menjual sampah tepatnya ke Bank Sampah Unit Kelok Salayang. Dewi Nanda sendiri menyetor sampah seminggu atau dua minggu sekali.

"Yang pasti rumah dan lingkungan jadi bersih. Bonusnya dapat penghasilan tambahan dari menjual sampah," tutur perempuan berusia 35 tahun ini seraya mengatakan ia sudah mendarah daging dengan sampah.

Pemberdayaan Berkelanjutan

Sementara Koordinator Program Nagari Sehat PKBI Sumbar Suci Kurnia Sari mengatakan Bank Sampah Unit Kelok Salayang, satu dari tiga unit bank sampah diinisiasi PT Tirta Investama Pabrik Solok bersama PKBI Sumbar sebagai mitra pelaksana. Dua bank sampah unit lainnya yakni Bank Sampah Unit Kelok Batuang di Jorong Lubuk Selasih Nagari Batang Barus dan Bank Sampah Unit Sarasah Manca di Jorong Linjuang Koto Tinggi Nagari Koto Gaek Guguk.

"Namun saat ini sudah terbentuk lagi bank sampah transit. Kehadirannya untuk mengurangi mobilisasi bank sampah yang jauh dalam penjemputan dan pengantaran. Dua bank sampah transit dibentuk tahun ini yakni Kayu Jao dan Rawang. Ini sedang berjalan," tuturnya.

Ia mengatakan PKBI Sumbar sebagai mitra pelaksana melakukan pendampingan terhadap bank sampah tersebut. Pertama, mengubah perilaku masyarakat dengan cara sosialisasi, edukasi, penyuluhan dan pelatihan-pelatihan terkait sampah dan bank sampah. Kedua, bagaimana bank sampah ini survive.

"Bukan hanya sebatas hadir di nagari. Ketika AQUA dan PKBI Sumbar tidak melakukan pembinaan, bank sampah tersebut tidak ada lagi. Kita mendorong mereka (bank sampah, red) mandiri dan berkelanjutan," tutur Suci.

Ketiga, bagaimana sampah anorganik yang telah dipilah tidak hanya sekadar dijual. Tapi bernilai guna bagi mereka. Dalam bentuk mendaur ulang, membuat dompet, tas, dan tempat tisu. "Itu yang kita dorong inovasi-inovasi yang dilakukan oleh kelompok dampingan. Supaya mereka secara mandiri dan perekonomian mereka sudah survive," paparnya.

Ia bersyukur tiga bank sampah ini mempunyai aktivitas dan branding tersendiri. Aktivitas mereka tidak hanya mentok pada memilih dan memilah sampah saja. Tapi mereka pun memiliki ciri-ciri khas masing-masing.

Bank Sampah Unit Kelok Salayang, tutur Suci, memiliki ciri khas produk daur ulang. Bank Sampah Unit Sarasah Manca memiliki ciri khas pertanian dan Bank Sampah Unit Kelok Batuang dengan ciri khas budi daya magot. "Dari keseluruhan bank sampah itu, perkembangan yang cukup pesat adalah Bank Sampah Unit Kelok Salayang," ungkap Suci.

Suci beralasan Bank Sampah Unit Kelok Salayang sudah bisa dikatakan mandiri secara finansial. Tanpa PKBI pun mereka sudah bisa berkegiatan dan tidak perlu di push lagi untuk berkegiatan. Bahkan mereka sudah punya strategi advokasi untuk masuk dan mencari celah dana pemerintah. Baik dalam bentuk dana pokok pikiran anggota DPRD, dana Dinas Lingkungan Hidup maupun dana Pemerintahan Nagari.

"Bank sampah ini selalu mendapatkan bantuan tersebut. Bahkan sekarang persiapan tahun 2024, dana pokok pikiran anggota DPRD Sumbar yang sedang mereka gaet dan itu sudah diapprove oleh Dinas Lingkungan Hidup Sumbar," ucapnya.

Ia mengatakan sejak adanya bank sampah dan edukasi yang rajin dilakukan oleh pengurus secara door to door bisa dikatakan masyarakat Kayu Aro sudah memahami nilai dari sampah. Dari sampah ini mereka bisa memproduksi uang atau menabung hanya dari sampah mereka hasilkan sendiri.

"Intensitas masyarakat untuk membuang sampah sembarangan dan ke sungai serta menumpuk sudah jauh berkurang. Dibanding dengan sebelum tahun 2021," tutur Suci.

Hal senada juga disampaikan Pj Wali Nagari Batang Barus Syafrianton. Ia mengapresiasi dan sadar akan keberadaan bank sampah ini. Masyarakat semakin sadar akan pentingnya mengelola sampah secara terpadu. Warga nagarinya semakin aktif menyortir sampah dari rumah tangga mereka.

"Setidaknya ada perubahan perilaku, yang dulunya buang sampah sembarangan kini mulai tertata. Warga di sini pun sudah paham soal pemilahan sampah," jelas Syafrianton.

Ia menekankan daya gedor bank sampah memang perlu didukung oleh peraturan. "Keberadaan peraturan nagari tentang sampah membuat warga semakin patuh dan disiplin mengelola sampah," tegasnya seraya mengatakan tahun 2024, pemerintahan nagari juga telah mengalokasikan dana untuk Bank Sampah Unit Kelok Salayang ini.

Kepala Pabrik AQUA Solok Endro Wibowo menyebutkan pembentukan ketiga bank sampah unit (BSU) bekerjasama dengan PKBI Sumatera Barat sebagai mitra pelaksana merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat Pabrik AQUA Solok. "Fokus kami adalah bagaimana terus menjalankan bisnis perusahaan sambil memperhatikan masalah sosial lingkungan. Termasuk pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan pengelolaan sampah ini," tutur Kepala Pabrik AQUA Solok Endro Wibowo dalam siaran pers diterima Arunala.com .

Endro Wibowo mengatakan pengelolaan sampah yang jalankan adalah mengajak dan bersama masyarakat mengumpulkan dan memilah sampah, sehingga sampah itu dapat didaur ulang ataupun digunakan kembali. "Termasuk mengelola sampah organik dari sisa-sisa sampah dapur seperti sayuran serta buah menjadi ecoenzyme," tukasnya.

Diketahui, kontribusi PT Tirta Investama Pabrik Solok menghasilkan air minum dalam kemasan (AMDK) telah berlangsung selama selama 10 tahun. Namun, komitmennya menyalurkan kebaikan melalui dana CSR telah berjalan sekitar 13 tahun. Sesuai slogannya "Kebaikan berawal dari sini", AQUA terus memberikan dampak nyata terhadap lingkungan hingga masyarakat luas. (ril)

Komentar