Alek Nagari Nan XX Kecamatan Lubeg Dimulai, KAN dan Kaum Adat Saling Unjuk Kebolehan

Metro- 09-10-2024 10:31
Camat Lubeg Andi Amir mendamping peserta sampaikan petatah petitih saat prosesi makan bajamba di Festival Alek Nagari Nan XX Kecamatan Lubeg, Rabu (9/10/2024). (dok : arunala.com)
Camat Lubeg Andi Amir mendamping peserta sampaikan petatah petitih saat prosesi makan bajamba di Festival Alek Nagari Nan XX Kecamatan Lubeg, Rabu (9/10/2024). (dok : arunala.com)

Padang, Arunala.com - Festival Alek Nagari Nan XX Kecamatan Lubuk Begalung (Lubeg) resmi dibuka oleh Asisten I Pemko Padang, Edi Asmi, Rabu (9/10/2024).

Dalam festival ini beberapa bentuk lomba yang menampilkan adat budaya minang ditampilkan oleh KAN, Bundo Kanduang dan masyarakat adat di 15 kelurahan yang ada se Kecamatan Lubeg.

Pantauan Arunala.com di lokasi festival di Balai Basuo Kecamatan Lubeg, lomba pertama yang diadakan lomba makan bajamba yang diiringi dengan pasambahan petatah petitih dari masing-masing peserta dari 15 kelurahan itu.

"Kegiatan festival Alek Nagari Nan XX ini sebagai upaya menggelorakan kembali semangat babaliak ka nagari. Dan kegiatan ini berkat dukungan para niniak mamak dan KAN yang ada di Kecamatan Lubeg ini," kata Camat Lubeg Nofiandi Amir kepada Arunala.com.

Selain semangat babaliak ka nagari, sebutnya, kegiatan ini juga sebagai bagian implementasi filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) di Nagari Nan XX (Lubeg, red) ini.

"Istilah niniak mamak kita, jan sampai jalan diasak urang lalu (Jangan sampai jalan diubah orang yang lewat). Dan kegiatan festival ini merupakan hasil diskusi kami dengan niniak mamak dan KAN Nagari Nan XX," jelas Camat Lubeg yang akrab disapa Andi Amir ini.

Festival Alek Nagari Nan XX ini, sambung Andi Amir akan digelar selama dua hari Rabu (9/10/2024) dan Kamis (10/10/2024).

Sedikit diulas Andi Amir, yakni menyangkut lomba makan bajamba yang diadakan pada festival itu. Prosesi ini bukan hanya makan bersama saja, namun ada filosofinya.

Di Minangkabau, ungkapnya, prosesi makan bajamba ini sarat dengan filosofi. Diantaranya diatur tata cara makan saat prosesi ini berlangsung.

Bagaimana membuka kata, etika membuka jamba yang berikan aneka macam makanan dan kue-kue, hingga penyampaian kata penutup dalam prosesi ini.

"Nah, etika budaya yang seperti itu harus kami lestarikan sehingga anak-anak muda di Lubeg bisa pula mengenal seperti apa etika dan budaya Minangkabau yang ada," pungkas Andi Amir. (*)

Komentar