Karya dan Sosok A.A. Navis Dikupas Dalam Dialog Sastra

Metro- 24-11-2024 09:02
Putri Sastrawan A.A. Navis, Gemala Ranti bersama Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar Jefrinal saat hadiri diskusi Sastra peringatan 100 tahun A.A. Navis di Taman Budaya Sumbar, Sabtu (23/11/2024). (dok : arunala.com)
Putri Sastrawan A.A. Navis, Gemala Ranti bersama Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar Jefrinal saat hadiri diskusi Sastra peringatan 100 tahun A.A. Navis di Taman Budaya Sumbar, Sabtu (23/11/2024). (dok : arunala.com)

Padang, Arunala.com - Sosok Ali Akbar (A.A) Navis tidak hanya dikenal sebagai seorang Sastrawan kondang di negeri ini dengan berbagai karyanya, bahkan namanya juga diabadikan di dunia melalui Unesco.

Dimana hari kelahiran A.A. Navis ini menjadi tanggal Internasional oleh badan dunia ini.

Penghargaan dunia terhadap A.A. Navis ini bahkan tidak terbayangkan oleh sang putri maestro Sastrawan ini, Gemala Ranti.

Kepada media, Ranti menyebutkan papinya adalah sosok yang mengagumkan dan punya karakter kuat serta sayang dan tanggung jawab kepada keluarganya.

Bahkan dirinya tidak tahu bahwa perayaan ini merupakan usulan pemerintah melalui Badan Bahasa.

"Saya masih ingat, saat mami berkerja sebagai pegawai, papi yang mengasuh kami. Caranya meski papi menulis atau membaca koran di meja, kami dikumpulkan di depannya untuk bermain. Papi tidak marah kendati tempat main kami itu berserakan oleh mainan," kenang Ranti.

Apa yang diungkapkan Ranti itu di saat acara pelaksanaan diskusi Sastra menggenang 100 tahun A.A. Navis yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Sumbar, Sabtu siang (23/11/2024).

Ia mengaku, perayaan memperingati 100 tahun A.A Navis ini merupakan apresiasi yang sangat luar biasa bagi dirinya dan juga dunia Sastra.

Ranti melanjutkan, pernah satu ketika, papi sedang membuat kliping koran. Untuk merekatkan kliping itu, papinya menggunakan lem yang terbuat dari tepung kanji.

"Namun ketika kami memberikan perekat yang yang baru kala itu, papi justru mengatakan "anak urang kayo awak" (anak orang kaya kamu, red). Papi bahkan melanjutkan membuat klipingnya itu menggunakan lem tepung kanji tersebut," ungkapnya.

Ranti juga mengatakan, pesan yang sampaikan papinya saat itu adalah jangan jadi orang sombong, namun tetaplah sederhana.

Kemudian, Ranti juga mensosok papinya adalah seorang pembaca dan pengamat. Kebiasaannya tiap pagi membaca sejumlah surat kabar yang ada di meja kerjanya.

"Sambil membaca dan mengamati semua tulisan maupun berita di surat kabar itu, beliau kemudian menandainya beberapa berita atau tulisan yang dianggapnya penting. Selanjutnya menyuruh kami untuk mengguntingnya untuk dijadikan kliping," papar Rantinext

Komentar