.
Pria berusia 55 tahun tersebut menyadari bahwa seorang operator pelabuhan sejati tidak boleh membatasi diri pada satu keahlian saja. "Saat melihat senior-senior terdahulu, saya sadar bahwa untuk berkembang, kita tidak boleh hanya terpaku pada satu alat. Kita harus menguasai berbagai macam teknologi kepelabuhanan," kenangnya. Keinginan kuat untuk terus belajar itulah yang membawanya meniti jenjang tertinggi dalam hierarki operator pelabuhan, sebuah posisi yang menuntut keahlian multitalenta dan jam terbang yang matang.
Hijrah ke Ranah Minang
Garis takdir kemudian membawa Sugiatno menjejakkan kaki di Bumi Minangkabau. Pada September 2017, ia resmi dimutasi ke Pelabuhan Teluk Bayur. Adaptasi baru pun dimulai, mempertemukannya dengan lanskap pelabuhan yang memiliki karakteristik berbeda dengan pelabuhan di Jakarta. Setahun berselang, tepatnya pada tahun 2018, ia mulai dipercaya memegang kendali Gantry Jib Crane. Alat ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan RTG yang biasa ia operasikan di ibu kota. Jika RTG bergerak dalam koridor yang relatif linier untuk melayani peti kemas, Gantry Jib Crane menuntut fleksibilitas tinggi karena menangani kargo non-petikemas atau curah dengan ruang gerak yang jauh lebih dinamis dan menantang.
Saat ini, tanggung jawab Sugiatno telah meluas secara signifikan. Ia bukan lagi sekadar operator tunggal yang menggerakkan tuas untuk dirinya sendiri, melainkan seorang pemimpin di lapangan yang mengayomi rekan-rekan sejawatnya. Di Pelabuhan Teluk Bayur, struktur operasional Gantry Jib Crane dibagi secara sistematis demi menjaga ritme kerja selama 24 jam penuh tanpa henti. Terdapat tiga orang koordinator yang memegang kendali operasional, di mana masing-masing koordinator bertanggung jawab penuh atas satu grup yang beranggotakan tiga orang operator.
Struktur tiga grup yang dikomandoi Sugiatno dan rekan sejawatnya bukanlah sekadar barisan regu kerja tanpa makna. Mereka adalah tulang punggung dari angka-angka raksasa yang bergerak di gerbang ekonomi Sumatra Barat ini. Catatan makro PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur merekam performa yang solid. Sepanjang tahun 2025, realisasi arus barang (throughput) di Teluk Bayur berhasil menyentuh angka 5,79 juta ton. Sinyal positif itu terus menggelinding hingga memasuki tahun 2026. Data pada Triwulan I 2026 menunjukkan throughput pelabuhan sudah mengantongi 1,51 juta ton, atau setara 118,69 persen dari target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP)next


Komentar