Padang, Arunala.com - Aksi bullying di sekolah bukan lagi hal yang baru. Banyak kasus bullying yang menimpa para pelajar baru diketahui setelah tersebar di media sosial. Lebih mengkhawatirkan, seringkali lingkungan menganggap bahwa hal tersebut hanya sebuah bentuk candaan.
"Bullying berasal dari bahasa Inggris berasal dari kata bull yaitu banteng yang senang merunduk ke sana kemari. Dalam bahasa Indonesia, bullying yaitu penggertak, orang yang mengganggu orang yang lemah," kata Psikolog di Layanan Psikologi Valian Yogyakarta, Fitri Yanti S Psi M Psi Psikolog, kepada Arunala.com, Rabu (11/10).
Ia menjelaskan bullying yaitu tindakan penggunaan kekuasaan untuk menyakiti seseorang.
"Atau sekelompok orang yang baik secara verbal, fisik, maupun psikologis sehingga korban merasa tertekan, trauma dan tidak berdaya," tutur ibu dua anak ini.
Faktor penyebab bullying, sebut Fitri, lingkungan keluarga.
Orang tua yang sering menghukum anak secara berlebihan atau situasi rumah yang penuh dengan agresi atau permusuhan menjadi penyebab bullying.
"Anak akan mempelajari perilaku bullying kemudian menirunya," ungkap istri founder @sudutpayakumbuh Ade Suhendra ini.
Ia menyebutkan faktor berikutnya, tayangan televisi atau media cetak. Televisi dan media cetak dapat membentuk pola perilaku bullying dari segi tayangan yg ditampilkan.
"Kelompok teman sebaya. Beberapa anak melakukan bullying sebagai usaha untuk membuktikan mereka dapat masuk dalam kelompok tertentu. Padahal mereka tidak nyaman dengan perilaku tersebut," ungkap psikolog di Nurani Perempuan Women Crisis Center (NPWCC) Padang ini.
Dampak bullying bagi korban sendiri, tutur Fitri, takut atau malas ke sekolah. Korban bullying memiliki ingatan yang tidak enak seperti kata-kata, rasa sakit.


Komentar