MilitansiMina Dewi Sukmawati dalam pengelolaan sampah tidak diragukan lagi. Melalui bank sampah yang didirikannya, dia menggerakkan warga, aparatur sipil negara bahkan nelayan untuk memilah dan mengolah sampah. Tidak hanya sampah daratan, limpahan sampah laut dan sungai pun dikelolanya.
Fajril - Padang
KEPEDULIANMina Dewi Sukmawati terhadap masalah sampah bermula pada tahun 2011. Saat itu, dia mengikuti pelatihan pengolahan sampah yang diselenggarakan oleh Kegiatan Kesatuan Gerak (KKG) PKK KB Kesehatan tingkat Kelurahan Gunung Sarik Kecamatan Kuranji Kota Padang. Pelatihan itu sendiri dibagi atas dua kelas yakni kelas kreasi dan kelas manajemen.
"Karena hobi kerajinan sejak kecil, saya memilih kelas kreasi. Ternyata kelas kreasi ini cepat selesai. Nah saya pun ikut dalam kelas manajemen bank sampah. Ini hal baru tapi menurut saya bagus untuk diterapkan," kata Direktur Bank Sampah Pancadaya, Mina Dewi Sukmawati, saat ditemui Arunala.com , di Kantor Bank Sampah Pancadaya di Kompleks Kantor Camat Kuranji Jalan Bypass KM 9,5 Kota Padang, Kamis (7/12) lalu.
Setelah satu bulan mengikuti pelatihan, ilmu yang diperoleh tersebut dia diskusikan di tingkat RT RW Perumahan Kompleks Tarok Indah Permai I Kuranji tempat tinggalnya. Dewi - panggilan akrabnya menelurkan ide untuk mendirikan bank sampah pertama kalinya.
"Ide bank sampah muncul ketika itu hujan deras turun mengguyur Kota Padang. Saat hujan turun membuat selokan di kompleks tersumbat dan menguap. Kompleks Tarok yang letak lokasinya bersebelahan dengan sawah menyebabkan sampah-sampah yang hanyut di selokan tidak sedikit yang bermuara ke sawah," tutur istri dari Nofriandy ini.
Akibatnya masyarakat serta pemilik sawah ribut dengan kejadian tersebut. Para pemilik sawah marah dan mengumpulkan sampah-sampah tersebut lalu membuangnya ke Kompleks Tarok. Kejadian inilah membuat Dewi mendirikan bank sampah di kompleks tersebut.
Bank sampah yang didirikan tahun 2012 itu diberi nama Bank Sampah Limpapeh Minang. Kehadiran bank sampah ini mampu mengantarkan Kelurahan Gunung Sarik menjadi juara 1 Nasional Lomba Lingkungan Bersih dan Sehat pada Juni 2012.
Torehan prestasi itu dilandasi mampu mengubah pandangan masyarakat di lingkungan sekitar bank sampah terhadap sampah.
"Dulunya masyarakat di lingkungan sekitar hanya membuang sampah secara sembarangan. Tetapi setalah adanya Bank Sampah Limpapeh Minang masyarakat tersebut mampu mendaur ulang sampahnya menjadi sebuah produk daur ulang," ungkapnya.
Kondisi demikian, tutur Dewi, permasalahan di sekitar lingkungan bank sampah seperti tumpukan sampah di selokan yang menimbulkan jentik nyamuk DBD dan banjir dapat teratasi.
"Bahkan kompleks tempat saya tinggal sebelumnya termasuk daerah endemi DBD. Tapi sejak adanya bank sampah, masyarakat tidak membuang sampah sembarangan berdampak pada menurunnya angka kasus DBD di kompleks," tutur alumni S-1 Universitas Negeri Padang ini.
Bahkan pada Januari 2013, Bank Sampah Limpapeh Minang mendapat kunjungan ahli penyakit DBD dari Singapura, Taiwan dan Malaysia. Kunjungan itu dilandasi mampu mengurangi kasus DBD yang disebabkan oleh tumpukan sampah di selokan. Selain itu Bank Sampah Limpapeh Minang juga pernah mengembangkan produk aerobic composter.
"Alat ini digunakan untuk mengurangi sampah organik rumah tangga. Aerobic composter ini dijual dengan harga Rp 300 ribu per unit. Pupuk cairan yang diperoleh dari proses penguraian sampah dengan aerobic composter ini juga dijual seharga Rp 12 ribu per liter," ungkapnya.
Sayangnya, pada tahun 2015, Bank Sampah Limpapeh Minang yang sudah berdiri tidak dapat beroperasi lagi. Karena tempat operasional bank sampah ini sudah dijual pemiliknya.
"Sebab pada saat itu kegiatan operasional bank sampah sendiri masih menumpang dengan rumah warga yang ada. Saat rumah tersebut dijual oleh pemiliknya maka kegiatan operasional bank sampah pun berhenti berjalan," tutur wanita kelahiran 15 Mei 1973 ini.
Kondisi tempat yang sudah tidak ada tentunya menghentikan sementara aktivitas menabung Bank Sampah Limpapeh Minang. Biar pun begitu Mina Dewi Sukmawati selaku direktur dan pendiri tetap melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang pengelolaan sampah.
"Sebagai direktur dan pendiri Bank Sampah Limpapeh Minang, saya tentunya akan tetap mempertahankan apa yang telah dirintis dengan susah payah. Apalagi ini berkaitan dengan perubahan pandangan masyarakat tentang sampah," ungkap ibu dua anak ini.
Setelah satu tahun tanpa gedung akhirnya Mina Dewi Sukmawati meminta dukungan ke Camat Kuranji melalu program kerja Pokja IV PKK terkait pelestarian lingkungan. Akhirnya dia diberi sedikit tempat di parkiran Kantor Camat Kuranji dengan atap tanpa lantai dan tanpa dinding pada tahun 2017.
"Pada tahun 2017 itu bisa dibilang stagnan. Karena pertambahan nasabah bank sampah hanya 20 orang," tutur Dewi.
Kondisi tersebut, sebut Dewi, berjalan hampir dua tahun.
"Kalau mau menyerah, menyerahlah saat itu. Tapi saya berpikir orang sudah mengenal kita dan setidaknya orang tahu kita sudah mulai mengelola sampah. Kalau saya mundur, siapa lagi. Karena nggak semua orang yakin untuk dijalani. Mau lanjut ini butuh perjuangan berat. Mau mundur ini tanggung jawab sudah besar karena kita sudah mulai mengedukasi masyarakat," kenangnya.
Pada tahun 2018 Dewi mengaktifkan kembali bank sampah yang pernah dikelolanya. Setelah kegiatan bank sampah kembali dilakukan, dia pun mengubah nama bank sampah. Dari Limpapeh Minang menjadi Bank Sampah Pancadaya.
"Pada saat itu, Pegadaian datang mencari bank sampah yang harus diberikan dukungan. Ketika itu Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang mengirimkan lima kandidat bank sampah ke Pegadaian. Akhirnya Pegadaian memilih Bank Sampah Pancadaya. Karena pertanyaan sewaktu wawancara, jika kami bantu nanti akan seperti apa. Saya pun jawab kami dibantu disupport gedung, Insya Allah, kami ingin besar dan berkembang. Tentunya dengan support Pegadaian," ucapnya.
Ia pun bersyukur Camat Kuranji mengizinkan lahan area kantor camat untuk dibangun gedung bank sampah oleh PT Pegadaian pada Januari 2019.
"Pada Maret 2019, gedung bank sampah ini berdiri dan diresmikan Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah kala itu," tutur Dewi.
Selain memiliki program dan struktur organisasi, Bank Sampah Pancadaya memiliki visi. Yaitu "Menjadikan Bank sampah sebagai wadah, media dan sumber belajar bagi masyarakat dalam rangka pengelolaan sampah rumah tangga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat."
Dan juga memiliki misi yaitu memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat manfaat dan dampak sampah, membangun entrepreneurship yang berwawasan lingkungan.
Meningkatkan perekonomian masyarakat melalui pengolahan sampah, meningkatkan derajat kesehatan melalui peduli sampah dan menciptakan lingkungan bersih dan sehat.
Terbentuk Bank Sampah Unit
Dewi menyebutkan sejak menjadi binaan pada tahun 2019, Pegadaian mempunyai program memilah sampah menabung emas. Jadi, tabungan nasabah tidak selalu uang tapi saldonya emas.
Ternyata ketika dilakukan sosialisasikan program tersebut mendapat tantangan dari masyarakat.
"Mereka mengira kami agen Pegadaian. Ini jual produk Pegadaian. Terus saya sampaikan secara pelan-pelan kepada masyarakat. Kita bukan agen Pegadaian dan kita independen. Pegadaian hanya membantu program. Program Pegadaian dengan kita hanya sebatas pada tanggung jawab corporate social responsibility (CSR). Tidak ada unsur bisnis di situ," tegas Dewi.
Setelah memahami penjelasan itu, akhirnya masyarakat memahami. Pada tahun 2019 awalnya dari 35 menjadi 55 nasabah. Kemudian dari 55 menjadi 150 nasabah selama tiga bulan.
"Kami pun menemukan pola pengelolaan bank sampah. Kalau kita tidak edukasi ke titik-titik yang dianggap basis atau potensi dan hanya duduk menunggu, ya seperti ini saja. Akhirnya saya pun mulai melakukan pendekatan pada kelompok kegiatan. Misalnya posyandu, karang taruna, dan majelis taklim. Saya minta waktu untuk edukasi terkait pengelolaan sampah kepada kelompok kegiatan tersebut," ucapnya.
Dari edukasi yang intens dilakukan itu Dewi pun mendapatkan sebuah kesimpulan.
"Mereka tidak mau bukan karena tidak maunya. Akan tetapi karena tidak tahu. Setelah kita edukasi, mereka mulai ikut melakukan pendaftaran di bank sampah. Bahkan dua kali edukasi langsung berdiri bank sampah unit pada awal 2020," ungkap Dewi.
Ia menjelaskan pendirian bank sampah unit ini bertujuan memudahkan nasabah dalam pengolahan sampah dikarenakan jauh dari kecamatan.
"Akhirnya saya mulai bikin bank sampah unit di satu titik. Para pendiri bank sampah unit bersemangat. Mungkin mereka sudah mulai teredukasi dan paham akhirnya bank sampah unit ini pun jalan. Setiap bulan saya pun masih melakukan edukasi tentang sampah ini ke titik-titik dianggap potensi. Alhamdulillah, terbentuk bank sampah unit selanjutnya," tutur Dewi.
Dewi mengatakan hingga saat ini sudah terbentuk 75 bank sampah unit di seluruh kecamatan di Kota Padang dengan 4.000 nasabah dengan 50 ton sampah per bulan. Data nasabah ini sudah termasuk nasabah aparatur sipil negara (ASN) Pemko Padang.
"Sebab wali kota Padang telah menelurkan instruksi tentang kewajiban ASN untuk menjadi nasabah bank sampah. Ini upaya mengurangi jumlah sampah yang sampai ke tempat pembuangan akhir (TPA) Aiadingin, yang jumlahnya per hari mencapai 550 ton," ungkap Dewi.
Sungai dan Laut Bebas Sampah
Selain fokus pada program pemilahan sampah dan edukasi berkelanjutan. Bank Sampah Pancadaya juga memilah sampah yang dapat berdampak pada ekosistem sungai dan laut. Hal ini dapat dilihat dalam kegiatan Bank Sampah Pancadaya bersama NGO Pangea Movement pada tahun 2021.
"Bersama NGO asing ini, kami memasang perangkap sampah di sungai agar sampah-sampah tidak sampai ke laut. Ini salah satu langkah kita dalam menyelesaikan masalah hulu," papar peraih penghargaan Perempuan Inspiratif Bidang Lingkungan Hidup Tahun 2019 ini.
Dewi mulai mengedukasi kelurahan dan kecamatan yang sudah mengizinkan pemasangan perangkap sampah di sungai.
"Akhirnya kita jalan. Ada sekitar 12 perangkap sampah yang sudah kita pasang di sejumlah anak sungai di Kota Padang," ungkap Dewi.
Ia mengatakan pemasangan perangkap sampah itu dibiayai oleh Pangea Movement. Baik orang yang mengambil sampah sungai, memasang perangkap dan biaya perawatan itu mereka semua.
"Apa yang kami lakukan ini ternyata berpengaruh besar pada kebersihan anak sungai di Kota Padang. Hal ini berujung menghambat sampah sampai ke laut," tuturnya.
Dewi pun menceritakan aktivitas mereka bersama Pangea Movement itu ke Menteri Kelautan dan Perikanan RI Sakti Wahyu Trenggono. Menteri pun mengapresiasi.
"Apresiasi tersebut disampaikan Menteri Trenggono saat kunjungannya ke Kota Padang dalam rangka kegiatan Exploring Mandeh: Road to Bulan Cinta Laut (BCL) di Pantai Purus pada bulan Agustus 2022 lalu. Pada kegiatan itu, Bank Sampah Pancadaya di bawah binaan PT Pegadaian menampilkan aneka produk daur ulang," tutur Dewi.
Dari cerita yang disampaikan ke Menteri Kelautan dan Perikanan RI ini ditarik sebuah kesimpulan, semua bersinergi dalam memerangi sampah.
Kenapa? Bank Sampah Pancadaya sudah memulai dari hulunya maka hilirnya harus dibenahi.
"Kita kan melihat nelayan mengambil ikan di laut yang terbawa kan sampah. Hampir 70 persen. Kenapa sampah laut ini tidak menjadi sumber pendapatan tambahan nelayan," ungkap Ketua Forum Sahabat Emas Peduli Sampah Indonesia (Forsepsi) ini.
Bulan Oktober 2022, Bank Sampah Pancadaya dilibatkan dalam kegiatan Gerakan Nasional Bulan Cinta Laut di Pantai Padang Kecamatan Padang Barat. Bank sampah ini dilibatkan untuk pengambilan sampah laut yang telah diambil nelayan.
"Ketika itu saya sempat mempertanyakan, apakah program Gerakan Nasional Bulan Cinta Laut sesaat seremonial atau berkelanjutan. Dari pihak Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Padang bilang Gerakan Nasional BCL ini diselenggarakan tiap tahun. Kalau berkelanjutan kenapa kita hanya bikin iven sesaat. Kenapa nelayan itu hanya saat Gerakan Nasional BCL mengambil sampah di laut. Kenapa tidak setiap hari mereka melaut mengambil sampah," tuturnya.
Dewi pun mulai menawarkan kerja sama yang berkelanjutan bagi pemberdayaan nelayan. Mereka bisa memanfaatkan waktunya untuk pemilahan dan daur ulang sampah ketika tidak melaut.
"Jika hanya dilakukan saat Gerakan Nasional BCL, usai kegiatan aksi ini pun usai. Akan tetapi setelah gerakan ini digelorakan ada sesuatu yang tetap berkelanjutan," tegasnya.
Gayung bersambut, pihak Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Padang menyetujuinya.
"Jadi kita membentuk bank sampah unit untuk nelayan di kampung nelayan.Diberi nama Bank Sampah Kampung Nelayan Cinta Laut di bawah jembatan Purus Kecamatan Padang Barat Kota Padang pada Oktober 2022," ucapnya.
Tahap awal, Bank Sampah Kampung Nelayan Cinta Laut dengan direktur Abadi ini memiliki 18 anggota dari nelayan dengan produksi sampah 600 kg per bulan.
"Saat ini bank sampah tersebut memiliki 45 anggota dengan produksi sampah mencapai 800 kg per bulan. Dan Bank Sampah Pancadaya sendiri menjemput sekali sebulan sampah yang telah dipilah dan dikumpulkan bank sampah unit ini," terangnya.
Kerja sama ini dimaksudkan untuk mengubah perilaku dan pola pikir di kalangan nelayan. Saat melaut, mereka bisa sekaligus mengumpulkan sampah dan menabungnya.
"Ketika mereka tidak ke laut karena cuaca yang buruk, maka mereka bisa melakukan pemilahan dan daur ulang sampah. Kegiatan ini tidak memaksa nelayan, mereka bisa menentukan sendiri mau ikut atau tidak," tuturnya.
Sampah yang sudah dipilah selanjutnya diserahkan ke mitra PT Semen Padang melalui program Nabuang Sarok dan bank sampah utama, Bank Sampah Pancadaya yang memiliki kerja sama dengan PT Pegadaian. Hasil penjualan sampah dilakukan langsung oleh PT Semen Padang akan dihargai dengan poin.
"Poin-poin tersebut ditukarkan dengan berbagai hadiah elektronik ke masing-masing nasabah. Dan bagi PT Semen Padang, sampah yang telah dipilah akan menjadi energi alternatif pengganti batubara," papar Dewi.
Di Bank Sampah Pancadaya sendiri, Dewi pun meminta dukungan Pegadaian. Bagaimana bank sampah nelayan ini tumbuh dan difasilitasi.
"Alhamdulillah, Pegadaian merespons. Itu pada tahun Oktober 2022. Setahun kemudian Oktober 2023 ternyata berkelanjutan lagi," ujarnya.
Dengan dukungan Pegadaian, hasil penjualan sampah nelayan dikonversikan dengan tabungan emas sebagai investasi. Bukan hanya sebagai tabungan biasa.
"Pendekatan seperti ini menjadi cara Bank Sampah Pancadaya untuk menanamkan pemahaman investasi kepada nelayan dan memberdayakan mereka," ungkap Dewi seraya menyebutkan paling banyak tabungan emas nelayan di Pegadaian sekitar 2 gram emas atau setara Rp 2 juta.
Bank Sampah Pancadaya, tegas Dewi, menerapkan sistem bagi hasil. Aman bagi bank dan aman bagi nasabah.
"Kami tidak memegang uang sama sekali dan nasabah berurusan dengan Pegadaian.Kemudian harga sampah ini naik turun. Karena sistem bagi hasil, mau harga berapa pun walau pun kecil akan tetap ada hasilnya. Jika kami ambil untung, risikonya ketika harga sampah turun yang membayar uang nasabah siapa?," tegasnya.
Ia menyebutkan tidak sekadar pemilahan, nelayan juga diedukasi untuk membuat ecoenzyme untuk menambah wawasan mereka.
"Ecoenzyme adalah hasil dari fermentasi limbah dapur organik seperti ampas buah dan sayuran," ungkapnya.
Dewi pun tidak ada berpikiran untuk terus mendampingi kelompok nelayan.
"Tahun lalu di kawasan Purus, tahun ini akan berdiri satu lagi bank sampah unit nelayan di kawasan Batang Arau Kecamatan Padang Selatan. Dan kita terus memberikan edukasi tentang pengelolaan sampah kepada nelayan tersebut. Mudah-mudahan bank sampah unit ini segera diresmikan," ucap Dewi.
Menjalar ke Pelabuhan
Aksi gerakan kecil terhadap nelayan yang dilakukan Mina Dewi Sukmawati menjalar ke Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bungus.
Ide Dewi memberdayakan nelayan melalui bank sampah ditangkap Kepala PPS Bungus Widodo. Dengan melibatkan Bank Sampah Pancadaya akhirnya PPS Bungus membentuk bank sampah unit.
Bank sampah unit itu diberi nama Bank Sampah Unit Sajameh (Sarok jadi Ameh) pada Maret 2023 berlokasi di Bungus Barat Kecamatan Bungus Teluk Kabung. Ini sebagai upaya menggerakkan kesadaran akan kebersihan pelabuhan.
"PPS Bungus satu-satunya instansi bergerak di luar bidangnya dan ini lebih kepada bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Kehadiran bank sampah unit di pelabuhan tersebut menjadi contoh bagi nelayan dan masyarakat," ucap Dewi.
Ia pun meminta mitra Pegadaian untuk meresmikan Bank Sampah Unit Sajameh bersama Kepala PPS Bungus.
"Tujuannya ada chemistry yang terbangun dan orang melihat ini bukan pekerjaan yang dianggap sebagai kelas rendahan. Tetapi semua orang bertanggung jawab dan peduli atas lingkungan," tegas Dewi.
Dewi mengatakan pada Bank Sampah Unit Sajameh dengan direktur Melly Masrul, PPS Bungus berperan memfasilitasi dengan menyiapkan bank sampah, pencatatan sampah yang dijual, serta transportasi pengangkutan.
"Tidak hanya sampah di sekitaran pelabuhan dan masyarakat sekitar dikumpulkan. Termasuk sampah di pulau-pulau sekitar pelabuhan turut menjadi perhatian," sebut Dewi.
Program Sajameh ini berhasil mereduksi 18 ton sampah setiap minggunya, yang berasal dari sampah rumah tangga masyarakat maupun dihasilkan oleh aktivitas pelabuhan dan pulau.
Sampah yang sudah dipilah selanjutnya diserahkan ke mitra PT Semen Padang melalui program Nabuang Sarok dan bank sampah utama, Bank Sampah Pancadaya yang memiliki kerja sama dengan PT Pegadaian.
"Sama seperti Bank Sampah Kampung Nelayan Cinta Laut, hasil penjualan di PT Semen Padang dikonversikan dengan barang elektronik. Sementara di Bank Sampah Pancadaya melalui mitra PT Pegadaian dikonversikan dengan tabungan emas. Tercatat lebih dari 20 koin emas ukuran mini didapat nasabah Sajameh," tuturnya.
Dewi juga mengatakan tidak hanya dijadikan emas saja, sampah yang telah dipilah dan dikumpulkan dijual ke pabrik daur ulang.
Dan sebagian digunakan untuk membuat kerajinan tangan. aksesori, tas, keranjang botol, mainan kunci, pot bunga dan sarung kotak tisu. Begitupun dengan kerajinan limbah kaca bisa diolah menjadi hiasan pajangan.
"Semua kerajinan itu kami olah dan buat bersama dengan pengurus yang nantinya akan dijual berdasarkan harga pasaran yang telah disesuaikan. Termasuk kami pamerkan saat pelaksanaan bazar," ucap Dewi.
Menuai Prestasi
Dari kerja kerasnya itu adalah wajar jika berbagai penghargaan tingkat nasional berhasil diperolehnya. Terbaru, Bank Sampah Pancadaya memperoleh penghargaan Bank Sampah Penggerak Pengelolaan Sampah Laut dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.
Penghargaan tersebut diserahkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI Sakti Wahyu Trenggono kepada Direktur Bank Sampah Pancadaya Mina Dewi Sukmawati saat Puncak Apresiasi Gerakan Nasional Bulan Cinta Laut di Pantai Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (10/11).
"Alhamdulillah, dari gerakan kecil yang kami lakukan mendapatkan apresiasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. Kami tidak pernah berpikir sejauh itu. Kalau gerakan kecil dilakukan tersebut sebagai bentuk tanggung jawab kami membina dan memberdayakan nelayan. Tapi sampai diapresiasi sejauh itu, itu di luar ekspektasi saya," tutur Dewi.
Bahkan, kata Dewi, Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah memperoleh penghargaan Gubernur Penggerak Pengelolaan Sampah Laut dan Abadi dari KUB Saiyo Sakato Mandiri Kota Padang sebagai Nelayan Terinspiratif.
"Memang kita sudah bergerak bagaimana sampah yang di laut itu bisa terkelola. Tidak hanya sampah di lingkungan atau di darat," ungkap Dewi.
Sebelumnya, Bank Sampah Pancadaya ini sudah menelurkan berbagai penghargaan diraih. Di antaranya penghargaan sebagai Bank Sampah Terbaik II se-Indonesia dan Bank Sampah Edukasi Terbaik III se-Indonesia.
Selain jalinan hubungan antar anggota, melalui serangkaian kegiatan yang diselenggarakan mampu menambah relasi dengan pihak luar dari setiap agenda kunjungan di Bank Sampah Pancadaya.
Jalinan relasi yang terbentuk di antaranya dengan Pemprov Sumbar, Pemko Padang, PT Pegadaian, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), pihak swasta lainnya dan lembaga pendidikan.
Bahkan Dewi pun menjadi narasumber pelatihan di berbagai provinsi di Indonesia untuk menebarkan ilmu pengelolaan sampah ini.
"Jalinan relasi yang terbentuk bisa dimanfaatkan sebagai sarana berbagi ilmu dan pengetahuan guna menambah wawasan dan keterampilan," ungkap Dewi.
Kurangi Populasi Sampah Laut
Terpisah, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sumbar Dr Ir Reti Wafda MTp mengapresiasi gerakan pemberdayaan nelayan dalam pemilahan sampah laut yang dilakukan Bank Sampah Pancadaya.
Dalam pelaksanaannya, nelayan diajak mengelola sampah laut jadi aset bernilai ekonomis. Sekaligus sejalan dengan program ekonomi biru Kementerian Kelautan dan Perikanan RI untuk mengurangi populasi sampah plastik di laut.
"Sampah-sampah laut yang berhasil dikumpulkan oleh nelayan tidak hanya menjadi beban, Namun juga peluang ekonomi yang bisa dijual ke bank sampah. Bahkan keunikan lainnya terletak pada kemitraan strategis dengan PT Semen Padang, yang siap membeli dan mengangkut sampah laut tersebut. Kemudian diolah menjadi bahan bakar alternatif. Dan juga menjadi sumber tabungan emas melalui konversi yang dilakukan oleh Pegadaian sebagai mitra Bank Sampah Pancadaya," urainya.
Reti mengatakan pihaknya tak akan bosan-bosannya mengajak masyarakat untuk aktif dalam pemilahan sampah dan bekerja sama dengan bank sampah.
"Kita akan melangkah lebih jauh dengan rencana kerja sama di tahun 2024 antara Semen Padang, Pemerintah Kota Padang, dan Kementerian PUPR. Mereka akan bersinergi membangun fasilitas pembakaran khusus dari sampah, menciptakan solusi berkelanjutan dalam pengelolaan limbah," tegas Reti.
Komitmen yang sama disampaikan Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah. Ia berharap kebersihan lautan dan pinggir laut sebagai sesuatu yang mutlak untuk keberlangsungan kehidupan nelayan pada khususnya dan masyarakat penikmat hasil laut pada umumnya.
"Kami akan terus berusaha agar laut menjadi bersih dan terbebas dari sampah. Tentunya tidak gampang karena ini tidak hanya membutuhkan police dari kita pemerintah. Tapi juga yang terpenting adalah kesadaran masyarakat di sepanjang pantai. Dan minta semua pihak bisa bekerjasama dan berkolaborasi untuk mengatasi masalah sampah di lautan, dan ia akan mengajak dan berkoordinasi dengan banyak pihak untuk mengatasi hal ini," tegas Mahyeldi.
Sementara Menteri Kelautan dan Perikanan RI Sakti Wahyu Trenggono saat Puncak Apresiasi Gerakan Nasional Bulan Cinta Laut mengatakan keberadaan sampah di laut Indonesia dipengaruhi banyak hal.
"Salah satunya posisi geografis kita yang berada dekat Samudera Pasifik, tempat adanya zona akumulasi sampah laut plastik terbesar," ujar Menteri KP Trenggono.
Gerakan Nasional Bulan Cinta Laut merupakan program ekonomi biru KKP untuk mengurangi populasi sampah plastik di laut.
Program kolaboratif itu melibatkan para nelayan, pemerintah daerah, pegiat lingkungan, hingga pihak swasta.
Tahun ini, program itu sendiri telah dimulai sejak Juli di 18 kawasan yang tersebar di 18 provinsi. Nelayan yang terlibat sebanyak 1.350 orang dengan jumlah sampah terkumpul mencapai 171,78 ton.
Jika diakumulasi dengan aksi-aksi pembersihan sampah di kawasan pesisir dan laut oleh masyarakat, totalnya mencapai 820 ton. (*)


Komentar