Di dalam bilik kaca sempit selebar dua meter yang menggantung di langit Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, kesunyian terasa begitu pekat. Tak ada hiruk-pikuk deru mesin dermaga di atas sini. Yang ada hanyalah sepasang mata yang menembus batas kaca dan sepasang tangan yang menggenggam tuas kendali dengan presisi baja. Di ruang sunyi setinggi puluhan meter inilah, nasib efisiensi logistik maritim Sumatra Barat dipertaruhkan setiap harinya.
FAJRIL—PADANG
Saat ditemui pada Jumat (12/6/2026) sore di kantor PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur, Koordinator Gantry Jib Crane ini baru saja menyelesaikan tugas pengawasannya terhadap operasional alat-alat berat yang sedang bersandar di dermaga. Dengan gurat wajah tegas yang menyimpan ribuan jam kerja, pria yang memulai kariernya dari titik nol di Jakarta pada tahun 2002 ini bersiap membagikan lembar demi lembar kisah hidupnya.
Perjalanan profesional Sugiatno tidak terbentuk dalam semalam. Jauh sebelum ia dipercaya mengomandoi operasional alat-alat berat di Teluk Bayur, ia memulainya dari titik nol. Tahun 2002 menjadi tonggak awal langkahnya di Jakarta. Kala itu, ia bergabung sebagai operator Rubber Tyred Gantry (RTG), sebuah alat raksasa yang berfungsi menyusun peti kemas di lapangan penumpukan. Sugiatno mengenang masa-masa awal itu sebagai fase penempaan diri yang penuh dengan ujian fisik and mental. Dorongan utamanya kala itu sangat sederhana namun kuat, yaitu keinginan untuk memajukan diri sendiri, keluar dari zona nyaman, dan membuktikan bahwa ia mampu menguasai teknologi kepelabuhanan yang rumit.
Memulai karir dari posisi asisten operator memberikan Sugiatno pemahaman tentang anatomi kerja pelabuhan. Ia tidak sekadar duduk di kabin yang sejuk, tetapi benar-benar merangkak dari bawah, mempelajari setiap detail mekanikal, memahami ritme kerja di lapangan, hingga mengasah kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Proses harian inilah yang membentuk fondasi mentalnya secara bertahap. Ketika sebagian orang merasa cukup dengan menguasai satu jenis alat, Sugiatno justru melihat dinamika pelabuhan dengan perspektif yang lebih luasnext


Komentar