Corina memaparkan, langkah awal berupa digitalisasi transaksi pembayaran melalui QRIS BNI, mesin EDC, hingga platform BNI Mobile Banking sebenarnya bertujuan mengubah struktur pencatatan keuangan internal menjadi rekam jejak digital (digital footprint) yang rapi dan akurat. Kerapian finansial inilah yang menjadi kunci utama bagi usaha mikro untuk mengubah status diri menjadi entitas bisnis yang bankable. Ketika sebuah UMKM memiliki rekam jejak keuangan sehat yang terverifikasi sistem, maka akses mendapatkan fasilitas pembiayaan ekspansi bisnis dalam skala jauh lebih besar akan terbuka lebar tanpa proses birokrasi penilaian aset jaminan konvensional yang memberatkan.
Corina menambahkan, keikutsertaan Rendang Asese dalam Dhawafest Pesona 2026 merupakan bagian dari cetak biru strategi BNI untuk melakukan pengujian daya tahan (stress testing) produk UMKM binaan di pasar modern sebelum dilepas ke pasar ekspor global. "Komitmen jangka panjang kami adalah melahirkan Local Champions baru yang mampu bersaing terhormat di kancah internasional. Rendang Asese membuktikan bahwa dengan memanfaatkan ekosistem digital terintegrasi dan jaringan global BNI, produk makanan dari dapur domestik di sudut kota Padang kini memiliki paspor dagang yang sah untuk memikat selera konsumen global," imbuh Corina.
Sinergi harmonis ini juga mendapat analisis dari kalangan akademisi. Pengamat ekonomi dari Universitas Andalas (Unand), Berri Briliant Albar, menilai transformasi Rendang Asese merupakan model percontohan ideal dari strategi hilirisasi produk berbasis kearifan lokal (local wisdom-based industrialization). Menurut Berri, produk kuliner tradisional yang berakar kuat pada nilai warisan budaya memiliki keunggulan komparatif unik berupa otentisitas sejarah yang tidak bisa ditiru mesin manufaktur raksasa multinasional.
"Apa yang ditunjukkan Rendang Asese dengan dukungan penuh BNI adalah potret nyata keberhasilan memotong rantai kemiskinan melalui peningkatan nilai tambah komoditas lokal. Ketika keunggulan kultural disentuh manajemen bisnis modern, standar internasional seperti HACCP, serta digitalisasi finansial yang inklusif, nilai ekonomi yang tercipta akan berlipat ganda secara eksponensial. Yang paling penting, keuntungan dari nilai tambah ini langsung dinikmati oleh masyarakat lokal," pungkas Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unand ini.next


Komentar