.
Terkait nama "Asese" yang kini dikenal luas, Eva mengungkapkan sebuah rahasia kecil yang sarat akan makna kekeluargaan. Nama tersebut bukan hasil kerja dari konsultan merek terkemuka, melainkan sebuah akronim yang disepakati di meja makan keluarga, Asal Seiya Sekata.
Bagi Eva, nama ini adalah jimat pengingat bahwa bisnis ini tidak dibangun oleh ambisi satu orang saja. Di dalam setiap kilogram rendang yang terjual, ada kontribusi keringat dari adik, kakak, sepupu, dan orang tua yang ikut membantu mengupas bawang, memeras santan, hingga mengemas produk di malam-malam yang panjang. Kebersamaan itulah yang menjadi ruh utama dari operasional Rendang Asese.
Benturan Pandemi dan Logika Bertahan Hidup
Hukum alam dalam dunia usaha selalu berjalan linier dengan ujian yang datang silih berganti. Ketika pasar lokal sudah berhasil dikuasai dan nama Rendang Asese mulai menancapkan pengaruhnya di Sumatera Barat sebagai salah satu oleh-oleh wajib bagi wisatawan, tantangan bahan baku muncul ke permukaan. Ketersediaan paru sapi yang berkualitas di pasar lokal Padang sering kali mengalami fluktuasi. Pada musim-musim tertentu, seperti menjelang bulan suci Ramadan atau Hari Raya Idul Adha, harga paru sapi melonjak drastis, sementara pasokannya justru langka karena berebut dengan kebutuhan konsumsi masyarakat umum.
Di sinilah keteguhan prinsip Eva diuji untuk pertama kalinya. Banyak produsen lain yang menyiasati kelangkaan bahan baku dengan mencampur paru dengan bagian daging lain yang lebih murah, atau mengurangi takaran bumbu untuk menjaga margin keuntungan. Namun, Eva memilih jalan yang berbeda. Bagi dirinya, menurunkan kualitas demi keuntungan sesaat adalah bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan pelanggan dan nilai keluhuran dari rendang itu sendiri. Ia memilih untuk membatasi volume produksi dan menjelaskan situasi tersebut secara jujur kepada para mitra tokonya, sembari perlahan membangun jaringan pasokan bahan baku yang lebih stabil langsung dari rumah potong hewan resmi.
Setelah badai bahan baku berhasil dilewati, sebuah ujian yang jauh lebih masif dan bersifat global datang tanpa mengetuk pintu pada awal tahun 2020, Pandemi COVID-19. Dunia seolah berhenti berputar dalam semalam. Pemerintah memberlakukan pembatasan mobilitas yang sangat ketat. Penerbangan menuju Bandara Internasional Minangkabau dipangkas habis, hotel-hotel kosong, dan jalan-jalan di Kota Padang mendadak sepi senyapnext


Komentar