.
Proses pemasarannya pun jauh dari kesan modern. Tidak ada strategi digital marketing, tidak ada iklan media sosial, dan tidak ada kemasan plastik kedap udara berdesain estetis dengan logo yang rumit. Eva membungkus rendang parunya dengan plastik transparan sederhana yang direkatkan menggunakan api lilin. Dengan menenteng keranjang belanjaan, ia berjalan kaki mendatangi satu per satu toko oleh-oleh kecil yang bertebaran di sekitar kawasan wisata dan pusat kota Padang.
"Banyak yang menolak di awal. Pemilik toko ragu, apa ada orang yang mau membeli rendang di dalam plastik mika seperti ini? Mereka bilang orang lebih suka rendang yang basah dan berkuah minyak," kata Eva sambil tersenyum kecil mengingat masa-masa sulit itu.
Namun, Eva tidak surut langkah. Ia menawarkan sistem konsinyasi atau titip jual. Jika produknya tidak laku dalam waktu dua minggu, ia berjanji akan mengambilnya kembali tanpa membebani pemilik toko satu rupiah pun. Tantangan itu diterima oleh beberapa toko oleh-oleh di dekat area Pasar Raya Padang.
Minggu pertama berlalu dengan kecemasan yang menggelayut di kepala. Namun, keajaiban dari sebuah cita rasa yang jujur mulai menunjukkan kekuatannya. Sebelum genap dua minggu, ponsel genggam Eva yang kala itu masih menggunakan layar monokrom berdering. Pemilik toko menelepon, bukan untuk mengembalikan produk, melainkan untuk meminta pasokan tambahan. Rendang paru kering buatan Eva disukai oleh para perantau Minang yang sedang pulang kampung. Teksturnya yang renyah namun tetap kaya akan bumbu rendang yang meresap hingga ke serat terdalam menjadi pembeda utama.
Keberhasilan awal itu memicu Eva untuk terus berinovasi. Ia mulai mendengarkan umpan balik dari para pelanggannya. Banyak konsumen lansia yang menyukai rasa bumbu rendang buatan Eva tetapi kesulitan mengunyah daging sapi yang padat atau paru yang renyah. Menjawab kebutuhan tersebut, Eva meluncurkan varian kedua yakni rendang suir daging kering.
Daging sapi berkualitas tinggi direbus hingga empuk, kemudian diserat serat-seratnya satu per satu dengan tangan, sebelum akhirnya dimasak ke dalam bumbu rendang hingga mengering. Langkah kecil ini menjadi katup pembuka bagi pertumbuhan Rendang Asese yang mulai merangkak naik dari usaha mikro rumahan menjadi usaha kecil yang mulai diperhitungkan di tingkat lokalnext


Komentar