.
Eva memahami filosofi itu bukan dari buku-buku teks sosiologi di universitas, melainkan dari sisa-sisa bumbu yang melekat di jemarinya sejak kecil. Ia tumbuh besar dalam lingkungan yang menempatkan keahlian memasak rendang sebagai sebuah ukuran kedewasaan seorang perempuan.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu, ia menyaksikan sebuah pergeseran yang mencemaskan di awal tahun 2000-an. Kota Padang mulai berbenah menjadi kota modern. Ritme hidup masyarakatnya bergerak semakin cepat. Para perempuan mulai keluar rumah untuk bekerja di kantor-kantor pemerintahan, bank, dan perusahaan swasta.
"Anak-anak muda sekarang, jangankan tahu takaran bumbu yang pas, berdiri di depan tungku selama empat jam untuk mengaduk santan saja mereka sudah tidak tahan," kenang Eva kepada Arunala.com, Sabtu (20/6/2026).
Kegelisahan Eva bukanlah tanpa alasan yang mendasar. Proses membuat rendang tradisional yang otentik adalah sebuah latihan spiritual tentang kesabaran. Api tidak boleh terlalu besar agar bagian bawah wajan tidak gosong sebelum air santan menguap sepenuhnya. Pengadukan harus dilakukan secara konstan dari fase gulai yang cair, berubah menjadi kalio yang kental dan berwarna cokelat kemerahan, hingga akhirnya mengering menjadi rendang yang hitam pekat. Kehilangan kesabaran di tengah jalan berarti merusak seluruh cita rasa yang seharusnya tercipta.
Ketika generasi baru kehilangan waktu dan kesabaran tersebut, ada kekhawatiran besar bahwa cita rasa asli warisan leluhur akan digantikan oleh produk-produk instan massal industri yang kehilangan jiwa. Dari rahim kegelisahan itulah, sebuah nama lahir, Rendang Asese.
Langkah Kaki di Tahun 2003
Tahun 2003 bukanlah masa yang mudah untuk memulai sebuah bisnis kuliner kemasan di Kota Padang. Saat itu, konsep oleh-oleh rendang dalam kemasan yang tahan lama belum sepopuler hari ini. Sebagian besar orang masih membeli rendang langsung di rumah makan Padang terdekat atau membuatnya sendiri di rumah saat hari raya. Namun, dengan keyakinan, Eva memutuskan untuk melangkah keluar dari zona nyamannya.
Produk pertama yang ia racik bukan rendang daging sapi, melainkan rendang paru kering. Pilihan ini lahir dari sebuah kalkulasi yang tak sengaja. Paru sapi memiliki tekstur yang unik. Jika diolah dengan teknik pengeringan yang tepat, ia bisa bertahan jauh lebih lama tanpa bantuan bahan pengawet. Bersama dengan suaminya dan dibantu oleh beberapa anggota keluarga terdekat, Eva mengolah beberapa kilogram paru sapi di dapur rumahnyanext


Komentar