Saat Rasa Legendaris Rendang Asese Menembus Pasar Dunia Bersama BNI

Ekonomi- 22-06-2026 15:35
Kesibukan salah satu petugas di stan 'WONDR FOOD' saat menyiapkan kemasan Rendang Asese untuk pembeli saat pameran Dhawa Festival (Dhawafest) Pesona 2026 yang berlangsung di Gedung Dhanapala, Kompleks Kemenkeu, Jakarta, pada 4--6 Maret lalu. Dukungan BNI menjadi saksi popularitas hidangan khas Padang ini. IST
Kesibukan salah satu petugas di stan 'WONDR FOOD' saat menyiapkan kemasan Rendang Asese untuk pembeli saat pameran Dhawa Festival (Dhawafest) Pesona 2026 yang berlangsung di Gedung Dhanapala, Kompleks Kemenkeu, Jakarta, pada 4--6 Maret lalu. Dukungan BNI menjadi saksi popularitas hidangan khas Padang ini. IST

.

Bagi sebuah usaha yang separuh nafas pendapatannya bergantung pada sektor pariwisata dan oleh-oleh, pandemi adalah sebuah vonis mati yang tampak nyata. Penjualan Rendang Asese merosot tajam hingga lebih dari 70 persen dalam hitungan bulan. Toko-toko oleh-oleh yang biasa memesan ratusan kemasan per minggu mulai menutup gerai mereka karena tidak ada wisatawan yang datang. Stok produk menumpuk di gudang produksi Alang Laweh.

"Saat itu, saya terduduk di dapur melihat kuali-kuali besar yang kosong. Rasanya seperti semua yang sudah kami bangun selama belasan tahun akan lenyap begitu saja," ungkap Eva dengan tatapan mata yang menerawang, mengenang masa-masa kelam tersebut.

Ada beban moral yang berat di pundaknya, mengingat belasan karyawan yang menggantungkan hidup keluarganya pada keberlanjutan Rendang Asese tidak mungkin dirumahkan begitu saja tanpa penghasilan. Namun, di dalam diri seorang pengusaha sejati, situasi krisis justru sering kali memicu lahirnya lompatan berpikir yang kreatif.

Alih-alih meratapi nasib atau menyerah pada keadaan, Eva mulai mengamati perubahan perilaku sosial yang terjadi di sekitarnya. Akibat karantina dan kebijakan bekerja dari rumah (work from home), banyak ibu rumah tangga yang mendadak harus memasak setiap hari untuk keluarga mereka. Di sisi lain, rasa bosan terhadap menu masakan yang itu-itu saja mulai melanda masyarakat, sementara kerinduan akan masakan restoran atau masakan kampung halaman tidak bisa terobati karena pembatasan sosial.

Dari pengamatan sosiologis yang sederhana itu, Eva melihat sebersit cahaya di ujung lorong yang gelap. Jika orang tidak bisa datang ke Padang untuk membeli rendang, maka ia harus mengirimkan "jiwa" masakan Padang langsung ke dapur-dapur rumah mereka di berbagai kota. Dari sinilah lahir lini produk baru yang menjadi penyelamat Rendang Asese, bumbu masakan Minang siap pakai.

Eva mengemas bumbu rendang, bumbu kalio, bumbu gulai, hingga bumbu ayam pop dalam bentuk pasta padat yang siap ditumis di rumah. Produk inovatif ini tidak memerlukan bahan baku daging yang mahal di sisi produksi Asese, sehingga bisa dijual dengan harga yang sangat terjangkau oleh masyarakat yang tengah mengalami kesulitan ekonomi akibat pandemi.

Konsumen di Jakarta, Bandung, atau Surabaya hanya perlu membeli daging atau ayam di pasar dekat rumah mereka, lalu memasukkannya bersama bumbu siap pakai dari Rendang Asese untuk mendapatkan cita rasa kuliner Minang yang otentik di meja makan mereka sendiri. Keputusan taktis ini terbukti menjadi sebuah kesuksesan besar. Pesanan bumbu siap pakai melonjak tajam melalui platform belanja daring yang baru saja dipelajari oleh tim Asese secara otodidaknext

Komentar