Waspada Monkeypox, Kenali Gejala dan Cara Pencegahan

Metro- 01-11-2023 21:55
Kabid P2P Dinas Kesehatan Sumbar dr Reina Sovianty MKes, saat Seminar Kesiapsiagaan Penanganan Kasus Monkeypox, Rabu (1/11). (Dok : Istimewa)
Kabid P2P Dinas Kesehatan Sumbar dr Reina Sovianty MKes, saat Seminar Kesiapsiagaan Penanganan Kasus Monkeypox, Rabu (1/11). (Dok : Istimewa)

.

Demam di atas 38 derajat celcius, sakit kepala, nyeri otot, nyeri punggung dan kelelahan tubuh.

"Atau dia memiliki gejala ruam kulit akut yang disertai limfadenopati atau lesi pada mukosa," ucapnya.

Dikatakan probable, sebut dr Fadrian, apabila ada ruam, ada limfadenopati, dan memiliki riwayat kontak dengan kasus probable atau kasus konfirmasi.

Atau dia kelompok berisiko, misal kelompok LSL dan biseksual dan timbul ruam.

"Atau dia memiliki pasangan seksual anonim baik itu homoseksual atau heteroseksual dalam 21 hari terakhir. Ini masuk kelompok probable. Namun belum ada hasil PCR yang spesifik untuk monkeypox," tuturnya seraya mengatakan jika ada hasil PCR yang spesifik untuk monkeypox maka ini sudah masuk pada kasus konfirmasi.

Bagaimana pencegahannya? dr Fadrian menyebutkan hindari kontak erat kulit ke kulit dengan orang-orang yang mempunyai ruam menyerupai monkeypox atau sudah terkonfirmasi monkeypox. "Hindari juga barang dan material yang pernah digunakan orang terinfeksi," sebutnya.

Ia menyebutkan tentunya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), salah satunya cuci tangan dan etika batuk. "Prinsip-prinsip PHBS ini merupakan prinsip pencegahan yang bisa dilakukan untuk mencegah terinfeksi monkeypox," tuturnya.

Kemudian pencegahan di komunitas. Melalui edukasi kepada masyarakat terkait monkeypox, penularan dan pencegahannya.

"Bagi yang positif lakukan isolasi sampai semua ruam sudah mengering dan lepas (dan sudah ada lapisan kulit baru)," ujarnya.

Ia mengatakan tatalaksana monkeypox, saat ini sudah ada antivirus yang dipunya adalah tecovirimat.

Namun catatannya, antivirus direkomendasikan pada kasus monkeypox berat dan risiko tinggi mengalami klinis berat.

"Bagi derajat ringan berupa terapi suportif. Disarankan isolasi di rumah kalau memungkinkan. Kalau seandainya anggota lain di rumah memungkinkan untuk di edukasi agar tidak tertular," ungkap dr Fadrian. (ril)

Komentar