Padang, Arunala.com - Pemprov Sumbar berusaha keras untuk menurunkan angka stunting. Hal itu dikarenakan angka prevelensi stunting di Sumbar pada tahun 2022 masih tinggi.
Data Pusdatin Kemenkes, jumlah bayi di Sumbar 512.309 orang. Sementara data riil dilaporkan oleh puskesmas, jumlah bayi di Sumbar sebanyak 432.536 orang.
Sehingga dari hasil Survey Status Gizi Indonesia (SSGI), angka prevelensi stunting Sumbar tahun 2022 berada pada angka 25,2 persen.
Atau 129.102 anak di Sumbar mengalami stunting. Padahal, tahun sebelumnya (2021), angka prevelensi stunting Sumbar ada di angka 23,3 persen.
Sementara data aplikasi elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) mencatat 36 ribuan anak menderita stunting di Sumbar. Berarti ada 79 ribuan anak yang tidak ada by name dan by adress.
"Meski ada dua data berbeda, itu tidak perlu didebatkan. Yang satu data survei dan satu data riil diinput langsung oleh puskesmas. Maka untuk intervensi kita tidak bisa menggunakan data survei. Karena intervensi harus ada data nama dan alamat yang jelas," kata Kepala Dinas Kesehatan Sumbar dr Lila Yanwar MARS saat Seminar Akselerasi Puskesmas Indonesia (Apkesmi) Sumbar di The ZHM Premiere Padang, Kamis (7/12).
Seminar ini mengusung tema Merangkul Perubahan: Solusi Kreatif dalam Mencegah dan Mengatasi Stunting dalam Kepemimpinan Strategis. Menghadirkan narasumber Direktur Utama RSUP M Djamil Dr dr Dovy Djanas SpOG KFM MARS FISQua, Rektor UNP Prof Ganefri PhD, dosen FK Unand Prof Dr dr Masrul MSc SpGK.
Ia mencontohkan saat pemberian makanan tambahan (PMT) harus mengacu pada data riil by name by adress. Ini dikarenakan pencatatan berbasis elektronik. "Akan tetapi untuk pengambilan kebijakan di daerah termasuk penganggaran, kita harus menggunakan data survei. Ini dua hal yang harus kita terima," ungkap Lila.


Komentar