Agam, Arunala.com - Elektrifikasi pertanian telah membawa berkah bagi Nagari Lawang, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Teknologi tersebut mampu mendorong pelaku usaha di kawasan itu meraih efisiensi dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.
Nagari Lawang di Kecamatan Matur, Kabupaten Agam telah lama dikenal sebagai sentra penghasil gula saka atau gula merah di Sumatera Barat (Sumbar).
Sebagian besar wilayah nagari yang berpenduduk sekitar 3.790 jiwa itu adalah perkebunan tebu yang diwariskan turun temurun.
Tidak hanya menanam, mereka mengolahnya menjadi gula saka atau gula merah. Ada lebih dari 140 kilang tebu di wilayah yang berada di 22 kilometer dari barat daya Kota Bukittinggi atau 103 kilometer utara Kota Padang, ibu kota Sumbar ini.
Pada tahun 1970-an, pengolahan tebu masih dilakukan secara tradisional dengan menggunakan kerbau sebagai alat penggerak mesin penggiling tabu.
Cara operasinya, sebatang kayu yang dikupas kulit dan panjang ukuran 3-4 meter diletakkan pada pundak kerbau dihubungkan ke penggiling tebu.
Lalu mata kerbau ditutup menggunakan tempurung kelapa yang diikat dengan kain agar kerbau patuh dan terus berjalan berputar.Ketika kerbau berjalan, penggiling tebu juga ikut berputar. Pekerja memasukkan batang tebu disela pertemuan batang kayu. Di bawah penggiling tebu diletakkan wadah untuk menampung air tebu hasil perasan.
Cara-cara tradisional ini berlangsung lama dijalankan kilang tebu di kawasan Lawang. Masa itu tentu tidak ada pilihan para pemilik usaha kilang tebu.
Sekitar dua dekade kemudian mesin bertenaga kuda semakin ditinggalkan.
Para pemilik usaha kilang tebu beralih menggunakan mesin diesel bertenaga solar untuk menggiling tebu mendapatkan satu tetes air tebu.
"Penggunaan mesin diesel bertenaga solar ini digunakan tahun 2019. Peralihan ini sebagai upaya memudahkan dalam produksi penggilingan tebu sekaligus tuntutan zaman," kata Ketua Kelompok Tani Inovatif, Desriyanto, kepada Arunala.com .
Desriyanto adalah Ketua Kelompok Tani Inovatif, salah satu kelompok beranggotakan pemilik penggilingan tebu. Kilangan tebu kelompok tani itu berlokasi di Jorong Katapiang Nagari Lawang Kecamatan Matur.
Ketika mendapat kemudahan dengan dukungan energi fosil, kata Desriyanto, buktinya dalam satu hari bisa produksi sampai 200 kilogram per hari. Atau meningkat sepuluh kali lipat dibanding jika menggunakan mesin bertenaga kuda.
"Sekali produksi itu dengan beban bahan bakar minyak (BBM) capai Rp 400 ribu," tutur alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang ini.
Biaya senilai itu, sebut Desriyanto, termasuk besar bagi pemilik usaha kilang tebu. Apalagi semakin ke sini pergerakan harga bahan bakar minyak terus merangkak naik.
"Ada pula yang sulit mendapatkan. Sementara pemilik usaha tentu ingin biaya produksi agak lebih ringan sehingga bisa mendapatkan untung," sebut pria berusia 28 tahun itu.
Hal lain kalau menggunakan mesin diesel, sebut Desriyanto, masih dihadapkan dengan kebisingan di lingkungan, dan bisa membuat pekak telinga. Kepulan asap yang banyak pun tak terhindarkan.
"Kondisi demikian tidak membuat nyaman lingkungan," ucapnya.
Hemat Biaya Produksi
Permasalahan dihadapi saat penggunaan mesin diesel bertenaga solar mulai teratasi. Ini setelah terjadi peralihan ke penggerak listrik. Desriyanto bersama kelompoknya pertama beralih.
Persisnya pada Mei 2022, melalui program penggunaan listrik untuk perkebunan dan pertanian atau electrifying agriculture dari PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero.
Hingga kini kilang tebu milik Desriyanto menggunakan motor electro dengan daya listrik 13.200 VA untuk menggerakkan dinamo yang terhubung ke mesin pencacah tebu.
Meski kini gula merah yang dihasilkan hanya 150 kilogram per harinya, biaya produksi yang dikeluarkan murah dibanding saat menggunakan mesin diesel.
"Setelah beralih ke listrik, biaya dikeluarkan cukup Rp 100 ribu untuk membeli token," ungkap Desriyanto.
Dengan elektrifikasi, ia juga tidak perlu biaya tambahan untuk diesel. Seperti rutin mengganti oli atau onderdil mesin.
"Mesin bertenaga listrik jauh lebih senyap sehingga para pekerja pun tidak perlu teriak-teriak saat mereka berkomunikasi. Seperti ketika menggunakan mesin diesel yang bersuara bising tatkala dihidupkan," ungkap Desriyanto.
Tenaga listrik pun didapat dengan mudah. Mesin tenaga listrik pun ramah lingkungan. Masyarakat sekitar turut mendapat manfaat karena polusi asap dan suara yang bertahun-tahun muncul dari penggunaan diesel dapat jauh berkurang.
Tak hanya itu, penggunaan energi listrik juga memungkinkan berkembangnya industri yang kian minim polusi dan ramah terhadap bumi.
"Pembakaran untuk memanaskan air tetes tabu pada tungku pun kini semakin sempurna. Karena penggunaan mesin pengembus angin bertenaga listrik memungkinkan api dari kulit tebu yang terbakar dapat terdistribusi merata. Hal ini berdampak antara lain terhadap peningkatan hasil rebusan air tetes tebu," ungkap Desriyanto.
Setelah air tetes tebu telah direbus dan mengental menyerupai gulali, diaduk dan dituangkan dalam alat cetakan yang dibuat dari potongan bambu berbentuk silinder.Lalu didinginkan hingga menjadi gula merah yang siap dijual.
Gula merah dari tetes tebu ini dijual dengan harga Rp 13.000 per kilogram. Konsumen gula merah dari Nagari Lawang sebagian besar dari kalangan pengusaha pabrik kecap di kawasan Pasaman, Payakumbuh, Pekanbaru, Jambi dan Padang.
Ia menyebutkan sedikitnya enam pekerja di kilang ini bersinergi dengan tugas masing-masing untuk menghasilkan gula merah dari lonjoran batang tebu yang disetor petani. "Pengolahan tebu di kilang ini berlangsung dari pukul 06.00 sampai pukul 17.00 dan sudah menjadi rutinitas mereka dalam mencari nafkah," sebutnya.
Hal senada juga disampaikan Ketua Kelompok Tani Sari Manih Tabu Dasril Munir. Ia mengatakan, motor electro merupakan inovasi berpihak pada petani.
"PLN membuat kami para petani untung besar. Sejak beralih ke motor electro ini, petani-petani bisa menghemat biaya operasional hingga 68 persen untuk proses penggilingan tebunya," katanya.
Dasril menjelaskan rata-rata tebu yang diolah per bulan oleh masing-masing kilang tebu adalah 10 ton. Jumlah 10 ton tebu tersebut dapat menghasilkan satu ton gula merah saka setiap bulannya.
Saat menggunakan mesin dompeng berbahan BBM, kilang tebu membutuhkan biaya operasional BBM dan perawatan sekitar Rp 5,5 juta per bulan.
"Tapi setelah beralih ke mesin electro dari PLN, biaya yang kami keluarkan kini hanya sekitar Rp 1,7 jutaan saja per bulan. Hemat hingga Rp 3,7 jutaan. Jadi jika harga BBM dianggap Rp 10.000 per liter artinya kami bisa menghemat atau efisien sekitar 68--70 persen," jelas Dasril.
Efisiensi ini, lanjut Dasril, akhirnya berdampak pada keuntungan dan pendapatan yang lebih besar.
"Keuntungan lainnya, kilang tebu menjadi lebih hieginies, bebas polusi udara serta polusi suara," ungkapnya.
Berlandaskan SDGs ke-8
Terpisah, Manajer Unit Layanan Pelanggan PLN Koto Tuo Hilmy menyebutkan, pihaknya saat ini sedang memproses 16 proposal dari kilangan penggilingan tebu lain di Lawang untuk beralih ke listrik.
Meski demikian, kali ini skema bantuan akan sedikit berbeda. Agar bisa menambah jumlah manfaat, PLN tidak lagi menanggung seluruh biaya pemasangan listrik.
Jika sebelumnya PLN menanggung seluruh biaya elektrifikasi termasuk biaya penyambungan listrik. Ke depan PLN hanya menyediakan biaya untuk mesin elektro motor, panel listrik dan dudukan motor.
"Untuk biaya penyambungan kami keluarkan dari komponen. Mereka mendapatkan bantuan berbagai fasilitas itu, mesin peralatan tetap dikasih. Tetapi khusus biaya penyambungannya dicicil tanpa bunga," ungkap Hilmy.
Ditambahkan General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sumatera Barat, Eric Rosi Priyo Nugroho mengatakan, TJSL PLN kepada petani tebu Lawang Matur merupakan komitmen untuk mendukung pengembangan sektor pertanian.
Komitmen ini berlandaskan pula pada Sustainable Developments Goals (SDGs) atau pembangunan yang berkelanjutan, yaitu SDGs ke-8, pengembangan ekonomi atau UMK.
"Hingga saat ini PLN telah menyalurkan 19 unit motor electro ke berbagai Kelompok Tani di Lawang Matur. Dengan rincian 3 unit bantuan motor electro pada tahun 2022 dan 16 unit motor electro pada tahun ini. 17 kilang tebu dilayani dengan daya listrik 13.200 VA, dan 2 lainnya berdaya 10.600 VA. Artinya PLN melayani listrik dengan total 245,6 kVA untuk pertumbuhan ekonomi petani tebu Matur," tambah Eric.
Sementara itu Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan PLN hadir menjawab tantangan tersebut melalui program EA.
Program yang telah diinisiasi sejak tahun 2020 ini mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Hingga triwulan III tahun 2023, sebanyak 230.555 pelanggan di Indonesia merasakan manfaat dari program EA.
Teknologi pertanian berbasis listrik mampu meningkatkan produktivitas dan meningkatkan pendapatan petani.
"EA merupakan terobosan dari PLN dalam memanfaatkan energi listrik di bidang agrikultur seperti pertanian, perikanan, perkebunan serta peternakan yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional para petani. Lewat program ini PLN mampu menciptakan "Creating Shared Value" (CSV) bagi masyarakat dan lingkungan," tegas Darmawan dalam siaran pers diterima Arunala.com .
Program EA ini juga sebagai jawaban dari kinerja operasional perusahaan yang patuh terhadap prinsip SDG's. Program EA menyasar pada empat nilai SDG's. Pertama, poin SDG's nomor 2 dalam mencapai target ketahanan pangan dan gizi yang baik serta meningkatkan pertanian berkelanjutan.
"PLN tak hanya menjadi perusahaan penyedia listrik namun memberikan pendampingan langsung kepada masyarakat lewat penyediaan infrastruktur pertanian berbasis listrik dan menularkan inovasi pertanian modern sehingga mampu mendorong produktivitas petani," kata Darmawan.
Kedua, poin SDG's nomor 7 dalam menjamin akses energi yang terjangkau dan berkelanjutan. Program EA melepas ketergantungan para petani dari bahan bakar fosil yang biasanya dijadikan sumber energi pompa irigasi maupun alat produksi pertanian.
Dengan mengganti sumber energi dari BBM ke listrik, PLN mampu mengurangi konsumsi BBM petani sehingga lebih rendah emisi dan lebih murah.
Efisiensi petani dari program EA ini mencakup nilai SDG's nomor 8 yaitu meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Petani kini mempunyai ruang gerak operasional yang lebih luas karena ongkos produksi memakai listrik menjadi lebih murah.
Bahkan, optimalisasi lahan pertanian mampu mendorong pembukaan lapangan kerja baru di sektor pertanian.
Dengan upaya sirkular tersebut, program EA PLN mampu menjawab poin SDG's nomor 12 yaitu, menjamin pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan.Program EA tidak hanya meningkatkan produksi melalui inovasi kelistrikan.
"Namun juga mampu memanfaatkan limbah hasil pertanian seperti bonggol jagung, sekam dan cangkang sawit untuk diolah dimanfaatkan menjadi sumber energi alternatif co-firing PLTU, sehingga berhasil meningkatkan kebermanfaatan dari proses pertanian," sebutnya.
Berkat program Electrifying Agriculture ini, PLN meraih penghargaan Indonesia's SDGs Action Awards pada kategori Pelaku Usaha Besar yang diselenggarakan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas). Program Electrifying Agriculture (EA) PLN membuktikan program tanggung jawab sosial lingkungan PLN tidak hanya sekadar menjawab kebutuhan masyarakat tetapi mampu memberikan value creation lebih bagi negara.(ril)
Komentar