Saat Rasa Legendaris Rendang Asese Menembus Pasar Dunia Bersama BNI

Ekonomi- 22-06-2026 15:35
Kesibukan salah satu petugas di stan 'WONDR FOOD' saat menyiapkan kemasan Rendang Asese untuk pembeli saat pameran Dhawa Festival (Dhawafest) Pesona 2026 yang berlangsung di Gedung Dhanapala, Kompleks Kemenkeu, Jakarta, pada 4--6 Maret lalu. Dukungan BNI menjadi saksi popularitas hidangan khas Padang ini. IST
Kesibukan salah satu petugas di stan 'WONDR FOOD' saat menyiapkan kemasan Rendang Asese untuk pembeli saat pameran Dhawa Festival (Dhawafest) Pesona 2026 yang berlangsung di Gedung Dhanapala, Kompleks Kemenkeu, Jakarta, pada 4--6 Maret lalu. Dukungan BNI menjadi saksi popularitas hidangan khas Padang ini. IST

Di sebuah sudut Jalan Alang Laweh II, Padang Selatan, Kota Padang, waktu seolah berjalan dengan ketukannya sendiri. Ketika klakson kendaraan di jalan raya saling bersahutan memburu waktu, di dalam sebuah dapur yang dindingnya mulai menghitam oleh jelaga, sebuah tradisi leluhur sedang dirawat dengan takzim. Aroma santan kelapa yang perlahan menyusut bercampur dengan gempuran belasan jenis rempah lengkuas yang memar, jahe yang digilas, bawang merah, bawang putih, cabai giling, hingga daun-daun aromatik menguar ke udara, mengikat siapa saja yang melintas dalam goda selera yang tak tertahankan.

FAJRIL--PADANG

Di depan sebuah wajan tembaga berdiameter hampir satu meter, seorang perempuan berdiri dengan kokoh. Tangannya yang legam oleh pengalaman memegang erat sebuah sudip kayu panjang. Dengan gerakan yang ritmis, konstan, dan penuh penghayatan, ia membalikkan cairan kental berwarna cokelat tua di dalam wajan. Perempuan itu adalah Eva Milza.

Bagi orang luar, ia mungkin hanya seorang pengusaha kuliner lokal yang sukses. Namun bagi masyarakat di sekitarnya, Eva adalah seorang penjaga nyala tradisi. Selama lebih dari dua dekade, di dapur inilah ia menjaga nyala api yang tak hanya mematangkan daging, tetapi juga memelihara salah satu identitas paling luhur dari peradaban Minangkabau.

Bagi urang awak, rendang atau yang secara otentik disebut marandang bukanlah sekadar urusan mengisi perut yang kosong. Ia bukan sekadar lauk pendamping nasi di atas piring porselen. Rendang adalah sebuah kosmologi sosial. Di dalam setiap potongan daging yang menghitam, terdapat representasi dari empat unsur utama masyarakat adat Minangkabau.

Daging sapi merupakan lambang dari Niniak Mamak (para pemimpin adat), karambia atau kelapa adalah lambang Cadiak Pandai (kaum intelektual) yang memberikan kelembutan lewat minyaknya, lado atau cabai merupakan simbol Alim Ulama yang tegas dan pedas dalam mendidik syariat, serta bumbu-bumbu (pemasak) yang menyatukan semuanya merupakan lambang dari keseluruhan masyarakat Minang yang rukunnext

Komentar